Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu melalui berbagai sakit Karena aku tahu, Kan ku katakan mampu tuk menemani Setiap tangis Juga marahmu Kan tidak pernah beranjak Dari sisimu Kalau-kalau kau lemah Dengan dunia yang tak bawa kau pada damai Aku mencintaimu pada tiap detikku Jarum-jarum telah patah Menunggu ku berhenti tuk tak berdetak Kala ku dengar, Ku ingat Namamu Aku mencintaimu di tengah ramaiku Rudal kehidupan telah coba hantam Habis, poranda dimana-mana kan jadi bukti Tapi sudut nisan, batu ingatan nama kita Berdiri tegak, menyombongkan diri Tak tersentuh Hanya sedikit tertutupi debu risau Aku mencintaimu tanpa pamrih Ku kembalikan lagi pada Tuhan Gantikan tangan yang tak sampai Peluk Kala kau pilih jalan panjang Bersama lagu yang kini tak henti Temaniku Aku mencintaimu Lalu, Hari ini, Juga pada bilangan tak terbatas

Bolehkah?

 Aku harap Kau punya harap Lalu kita sama sama berharap Bolehkah jadi satu harapan? Aku ingin Kau beritahuku  Sehatmu, bahagiamu, kuatmu Jika benar, ku lanjutkan mengemis Pada Tuhan Sebab, itulah isi harapanku Tak banyak Namun padat Banyak yang dipinta Tapi bait kau, tersebar

Masa Panen

Badanku kian mengering Namun Rinduku tumbuh subur Tak habis masa panen Sebab Tuhan sirami ku  akan rasa cukup dan keyakinan luas Padamu, disetiap malam

Takdir Baik

Segenap takdir Tuhan pastilah baik, Ku imani itu Ku tasbihkan setiap waktu Juga ku selipkan hal baik lainnya Pun namamu

Sapa

Apa kabar? Aku rindu - sangat Perasaan ini masih sama besarannya Tak perlu lebih berkata Aku hanya pandai menjaga Tidak dengan melepas

Tabah

Habis-habisan memupuk rindu Perlu jua berbuih tuk diberi petuah Jangan mengatakan bahwa cinta kan datang Pada wanita yang telah gantungkan Jantungnya pada papan angan Jangan pula beri dia rendaman bunga Sebab bunga telah habis dipetiknya Diikat, lalu membajukannya dengan warna Berteriak pada ombak, Ia kan curi bahagia Mereka terlalu mengumbar Katanya, kan tumbuh seribu malam Nyatanya satu malampun tak diberi sisa Busung lapar sudah menunggu terisi Lambat waktu tinggal menunggu Tapi tabah kan jadi kudapan Setidaknya untuk malam Lalu malam selanjutnya Lalu fajar selanjutnya