Postingan

Menampilkan postingan dengan label kesedihan

Lelaki yang Membopong Wanita Berluka Nanah

Gambar
Diantara gaduh siang itu Seorang wanita penuh nanah hampiri Sajikan telapak terbuka dan sapaan penuh kebutaan Tersenyum seolahkan mampu tutupi besaran kotoran dihidupnya Lelaki beraroma kebahagiaan mulai melirik Namun tak balas tangan kotor yang bergantung di hadapannya Hanya ucapkan satu kata yang akan terpati dalam ingatan di tengah debu isi pikiran  sang wanita Waktu yang berjalan mendayu Hantarkan pada kumpulan bunga bermekaran di seluruh bagian Tenggelamkan sepasang manusia yang abaikan semesta Berpegang buah takdir yang dipetik pada sepertiga malam Satu persatu sungai anggur telah dicicipi Aliran yang menambah nikmat Mabuk hingga hilang akal Harap-harap tumbuh indah bak bunga teratai di atasnya Jutaan badai telah berlangsung cukup lama dan menyakiti dua makhluk Tuhan sakit yang menimbulkan demam dan gelisah Mencari dokter terhebat tak hasilkan jawaban Melemahkan pendirian Pendekar yang telah berjuang dengan kudanya memilih pergi dengan kaki pincangnya Wanita berbalut nanah ki...

Cerpen : Bintang Jatuh

Gambar
 Di suatu Desa terpencil, hiduplah anak perempuan bersama dengan Ibunya. Mereka hanya hidup berdua di desa itu. Sebelumnya Desa tersebut adalah Desa dengan banyak penduduk yang hidup sederhana dan bahagia. Namun, di tengah musim hujan yang sangat panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, banyak para penduduk yang memutuskan untuk bertransmigrasi ke daerah lain. Banyak orang beranggapan bahwa musim hujan kali ini tidak berujung dan menyebabkan malapetaka untuk warga Desa seperti, hewan ternak banyak yang mati, tumbuhan gagal panen, serta munculnya wabah-wabah penyakit yang hingga menyebabkan kematian.  Sang Ibu memilih tetap tinggal dikarenakan ketakutannya jika warga Desa akan bertemu dengan sang Putri. Bukan tanpa sebab ketakutan tersebut, beberapa kali sang Putri bertemu dengan warga Desa dan mendapatkan makian dan respon kurang baik lainnya karena wajah sang Putri yang dianggap buruk rupa dan menyeramkan. Bagi sang Ibu, putrinya sama cantiknya dengan anak perempua...

Potongan Film

Gambar
Malam ini lalu lintas begitu padat Ku temui gerumunan pada banyak titik Baik yang bersembunyi di balik jas hujan maupun di bawah atap besi berjalan Semua pendatang hanya pergi berlalu Sepertinya banyak orang mengarah pada jalan pulang Entah untuk apa atau siapa yang menunggu Hingga tampak berang dengan beradu suara Dan lupa akan basahnya tubuh Memandangi setiap kali lampu berwarna ceri tengah mendapat giliran Ronanya membias karena air hujan yang mengepunginya Semua patuh menunggu dihadapannya Meski dengan riuh cerca di kepala Aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan? Saat lampu tak bergerak Juga dengan jari mengeriput Hingga wajah yang terbasuh berulang Dengan helaan nafas ku coba nikmati sekitar Tepat di arah tenggaraku, saling berpeluk dan cerita hujan di lain hari dengan suka cita Sedikit bergeser ke arah timur, tengah mengamankan sekotak makanan dibalik bungkus plastik yang naasnya tak halau dingin Juga dari arah baratku, sepaket keluarga cemara dengan wanita yang mengusahakan diri...

Hari Pemakaman

Gambar
Prasangka menyelimuti setiap hati Tak ada putih-hitam, bersih ataupun kotor Prasangkakan hampiri tuk mengisi pikiran kosong Dan lalu membangkai bersama sang inai Mereka sebut tabah yang dapat sembuhkan Naasnya mereka tak tahu,  benarkah masih ada yang hidup di sini? Apakah bisa hidupkan jasad yang telah mati? Sebelum gagak hitam kerumuni tuk rayakan duka Tibalah hari pemakaman, ramai Ada yang datang bersama tangis, teriakkan tuk mengutuk Tuhan hingga beberapa jiwa tumbang Sisa lainnya hanya bisa berbisik belas kasih Dengan tangan menggenggam, pinta tuk jadikan ini sekedar mimpi Esoknya kembali pada semula Kekosongan ruang ini begitu dingin Melanjutkan yang tertunda, menggertak kepada Tuhan tuk kembalikannya Hingga balasan akhirnya datang jua ... " Dirinya tak pergi, tapi kamu yang tak lagi didunianya "

Hari Akhir

Gambar
Siang berganti malam Begitu juga terangnya, dan-lalu-gelap Begitu juga panasnya telah tertiup Dan begitu juga ramainya,  tertelan hingga habis menyisakan senyap Ku lihat semua berjalan begitu cepat Dengan telapak kaki di sembarang arah Baik pada tanah yang basah dan ubin yang dingin Baik dengan jejak yang terbentuk hingga yang berakhir,  dimana lainnya itu? Tanyaku, mengapa berganti dan tak biarkan saja semua sama? Seperti pada lemari gelas kaca milik sang petuah dihari doa baik Gelas yang terawat dan berakar Meski lupa akan tujuan terbuat Tanyaku, mengapa berganti dan tak paksakan saja semua sama? Tak perlu sibuk merancang nanti Cukup peluk hari ini untuk berhenti Hingga sedikit mengeratkan peluk yang tak peluk sampai bisa tak bercerai Tanyaku, mengapa berganti dan ikhlaskan semua? Namun hanya hening kudapat Dan bayang hitammu yang mulai merabun Ku rasa sadarku tak dapati jawab dan termakan tanya Barangkali ada yang ingin bicara dan mulai jelaskan Bukan dengan hujan yang mula...

Cerpen : Ada Luka di Balik Kata Paham

Gambar
Sore itu segerombolan remaja tengah membelah kota. Dua diantaranya sedang berbincang dengan raut yang bahagia. Sesekali diselingi suara tertawa. Mereka tengah menceritakan mengenai bagaimana lucunya dunia ini. Bahasan yang umum dibincangkan oleh para karyawan kota kota besar. "Hai Dimas, kau tahu tidak siang tadi rasanya sungguh berat?" tanya Nina dari posisinya yang kini tepat dibelakang Dimas yang mulai merubah raut wajah tanpa diketahui oleh gadis tersebut.  "Ada apa?"  "Siang tadi aku di tegur karena pemasukan perusahaan mulai turun bulan ini. Marketing Credit lagi marketing Credit lagi, sepanjang rapat tadi itu saja yang dibahas. Padahal tim Corporate juga lelang ada disana. Curang bukan? Sepertinya GM kita memang sensi sama timku." keluh Nina "Bukankah justru bagus? Secara tidak langsung, GM ingin mengoptimalkan divisi Credit karena beliau tahu potensi yang kalian punya sangatlah besar."  Nina yang mendengar jawaban tersebut mulai membuat e...

2000 - 20

Gambar
Dua ribu dua puluh  Banyak tanya yang akhirnya mendapatkan jawaban  Kata damai seperti mudah ditemukan  Hasil dari #dirumaaja yang menjadi selogan di era tersebut  Dua ribu dua puluh  Hangat dirasa namun sangat sederhana  Seperti sup buatan Ibu pagi itu Tepat akhir pekan meski kalender kini tak lagi kami butuhkan seperti sebelumnya  Dua ribu dua puluh  Tak nampak lagi perbedaan antara gelap dan terang  Matahari dan bulan tak di izinkan Ibu tuk kubiarkan masuk kedalam  Sekedar pengingat, apakah hari sudah berganti atau justru sebaliknya  Dua ribu dua puluh Meski genap sudah setengah tahun Tapi berteman dengan kasur tak perna buatku bosan Tidak denganku, entah dengan sang kasur yang tidak lagi dapat berlibur kerja lebih lama Dua ribu dua puluh Seperti teh hangat di ruang kerja bapak dengan lampu redupnya Meski keruh, tapi manis dan menenangkan Tak apa jika ada sedikit pahit yang tercecap di lidah Anggap saja itu bonus agar indra penge...

Sekedar Cerpen : Sepucuk Surat

Gambar
Ada sebuah lelucon hari ini. Diera ini masih ada seseorang mengirimkan surat setiap 1 tahun sekali. Pak tua yang sudah bekerja selama lima tahun inipun terheran-heran. Aktivitas wanita muda ini setiap tahunnya datang untuk mengirimkan barang yang sama persis. Surat berwarna putih polos yang sederhana tapi tak diberikan alamat tujuan. Wanita tersebut memasukan surat tersebut kedalam kotak surat didepan kantor pos pada pagi hari. Ini tahun ke lima pak tua ini menjadi saksi kegiatan rutin wanita tersebut. Wanita tersebutpun hanya sekedar memasukan surat tersebut lalu pergi. Setiap kali pak tua ingin  menghampirinya, langkah wanita muda itu lebih cepat meninggalkan tempat tersebut. Surat beramplop putih hanya menjadi tumpukan paket yang tidak perna dikirimkan. Yang benar saja, bagaimana surat tersebut ingin dikirimkan jika hanya tercantum penerimanya tanpa alamat,  kontak yang dapat dihubungi ataupun lainnya? Dan, sepertinya itupun bukan nama dari penerima yang dituju. Hanya ter...