Hari Akhir



Siang berganti malam
Begitu juga terangnya, dan-lalu-gelap
Begitu juga panasnya telah tertiup
Dan begitu juga ramainya, 
tertelan hingga habis menyisakan senyap

Ku lihat semua berjalan begitu cepat
Dengan telapak kaki di sembarang arah
Baik pada tanah yang basah dan ubin yang dingin
Baik dengan jejak yang terbentuk hingga yang berakhir, 
dimana lainnya itu?

Tanyaku, mengapa berganti dan tak biarkan saja semua sama?
Seperti pada lemari gelas kaca milik sang petuah dihari doa baik
Gelas yang terawat dan berakar
Meski lupa akan tujuan terbuat

Tanyaku, mengapa berganti dan tak paksakan saja semua sama?
Tak perlu sibuk merancang nanti
Cukup peluk hari ini untuk berhenti
Hingga sedikit mengeratkan peluk yang tak peluk sampai bisa tak bercerai

Tanyaku, mengapa berganti dan ikhlaskan semua?
Namun hanya hening kudapat
Dan bayang hitammu yang mulai merabun
Ku rasa sadarku tak dapati jawab dan termakan tanya

Barangkali ada yang ingin bicara dan mulai jelaskan
Bukan dengan hujan yang mulai turun
Terlebih aroma tanah yang mulai membasah yang kali ini dapati tak bercela pada tiap rongga hati
Bukan juga dengan rona langit sebab semua kini abu

Mereka berkata doa dikala hujan adalah waktu baik
Namun dikala ku gaungkan doa, terdengar serasak-serusuk tak beraturan
Satu per satu tangan tutupi mulut
Satu per satu tangan tutupi mata juga genangannya

Tibalah pada saat terbaik
Air dan angin sapukan dunia
Semua hilang - semua hilang
Pun aku, mengejar angin tuk ikut lenyap

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu

Ghetini

Apakah ini bayaran atas tenang?