Postingan

Rumah knis

Rancuan Si Gila

Dengarlah, Kini tak ada lagi suara sumbang Mulai bernadakan, menghanyutkan Sepertinya ... sepertinya ... Batu nisan yang tergantung Kini berubah jadi lukisan berwarna mentereng Serta noda-noda lainnya Yang tutupi debu, tampak Sepertinya ... sepertinya ... Pantas saja, tak ada lagi yang memanggil Tuk berbagi payung Dia sudah pandai membalut diri Sepertinya ... Hujan panjang ini, hanya aku Beginilah terguyur, tanpa perlawanan Meski beratap, namun tidak dengan dinginnya Dirinya yang menari Dan menarik jemari lentik lain Buatku tak lebih dari sekedar penonton pentas Aku tak paham, sejak kapan ungu mulai merambat Seharusnya, aku sadar tuk pergi bukan memahat Apakah karena terpukau? Atau justru sakau? Sejak kapan pemain baru itu hadir? Bukankah, itu seperti aku? Tempat yang ku isi Naskah yang ku dalami Mimik yang diperagai Seperti aku, tapi seperti juga bukan aku Sepertinya aku kembali berulah Sepertinya dirinya yang tak berbeda Sepertinya aku yang hidup hanya kemarin Sepertinya dirinya, ber...

Beritahu aku

Bagaimana caranya untuk merasa sendiri? Ragamu selalu bersamai Terkadang di sisi, bergelayut bak kuala Bisa di ujung pupilku, dengan matamu yang menghilang, terhalau bulat merah itu Pun di belakang, dekap, dan kita bersemu Bagaimana caranya untuk hening? Saat aku mendengar rima yang kau senangi? Dengan kamu yang berulah, bodoh, di depanku Buatku tertawa, agresif menyamai langkahmu Bagaimana caranya untuk menangis? Selalu tersadarkan, bahwa aku di bawahmu Yang terus mengkukungku Aman, nyaman, lalu apa lagi yang buatku takut? Bagaimana caranya untuk Sadar, Meski tak menenggak habis lagi pil Bangun, Sekalipun tak pernah lagi lelap Hingga menerima bahwa hanya ada aku di sini?

Koma

Aku gagal kembali Sudah dimakan dua tahunpun, sama Tergulung, tergelar, tergulung Terhimpit di bundaran yang sama Sampai kapan? Tanya itu tergaung diberbagai pengeras suara Oleh mereka yang mulai lelah mendoakanku Juga yang tak tertarik mendengar keluh Aku paham, bukan hanya satu Aku maksudnya Lain-lainnya, pun merasakan Tapi, ini sudah 2 tahun Sedangkan mereka, sudah jauh  Terbang dan pandai hinggap Padahal, akupun sudah mengusahakan Semua, semampu, apapun itu Kali ini tidak berbohong Hilang dari duniapun sudah, Tetap sama, tergulung, tergelar, tergulung Malam yang berujung tangis Tangis, berhelakan raung Pukulan, hantaman, yang tertuang Di atas selembar itu Panjangnya, mentatakkan pilu Aku, harus seperti apa? Dua tahunku, kan bergulir menjadi tiga Lalu empat, lima Sedangkan aku, tetap koma

Apakah ini bayaran atas tenang?

Tatap terakhir Ku temukan dirimu bersembunyi Di dalam sana, jeruji yang dingin Bias bersama genangan Yang kau usahakan tuk tak rintik Aku tahu, apa yang aku mau Dengan begitu jelas, terukir di pikiranku Namun kala ku lihat lagi Buram sudah Ku hanya ingin, kau tenang Lihat aku menari, Bernyanyi, Melukis, Wajah ku penuh dengan warna Bajuku begitu cerah Rambutku penuh gelombang Aku baik, aku baik saja Tak usah bertanya, perasaanku Bagaimana sakitnya, Lukanya, Tangisannya, Yang aku mau hanya kamu Namun, dengan tenang Sungguh ku rindu inginkan lebih Namun ku tahu rasanya tidak nyaman Terkekang di dalam pikiran Tolong jangan hukum Dirimu lebih dari ini Sekali saja Dengarkan aku Tenang, kau harus lepaskan Begitu tersiksanya ku, melihat kau rapuh Lebih dari berbohong Mengatakan, aku sudah bahagia Sejak kau pilih pergih Diujung tumpangan Ingatkah, aku mengucapkan  ' Terimakasih untuk semuanya, aku bahagia ' Di saat itu, Sesak dan bahagia terpita, jadi satu Setelah ini, aku ingin dapat k...

Apakah hari ini (pun tidak)?

Tidak hari ini Hitam, tak sedetikpun bercahaya Mati, tak sedikitpun bergerak Lumpuh Sengaja didiamkan di sana Namun aku yang mendekat Lalu menjauh Lagi mendekat Yang berubah hanya sekeliling Rasa-rasa takdir Firaun yang tenggelam Tidak dapat berubah Tidak pula tertukar Tapi diujung sana, ada harapan sedang menelungkup Bukan malu Hanya mengukung doa Khawatir terlepas Pun tertukar Kemarin ada, namun tak ada Hari ini tak ada, pun benar begitu Esok mungkin lupa bertanya Atau barangkali tak perlu Sudah tak lagi Benarkah? Masih pula tanya ini lahir Alih-alih beranjak Ia hanya kembali ke sudut Dekap doa, lebih

Apakah hari ini ada yang akan memanggilku?

Malam, terbangun Mengendus-endus udara Sudah pukul berapa ini? Raba-meraba jarum, tetumpuk tak berjalan Sudah berapa lama ini? Aku tahu bahwa pagi masih lama Tidak tahu kapan datang Bisa jadi, tidak tahu apakah akan datang atau tidak Hanya sekedar mengimani Entah iman yang benar atau tidak Bisa jadi, tidak, lalu tertimbun gelap selamanya Aku rasa, kini Iblis mulai bergantung di daun telinga Bisikan, tidur saja - kau tidak butuh bangun Aku mulai menarik gerai kelopak mata Jampi-jampi di ujung bibir mulai dimainkan Padahal aku sendiripun lupa Untuk apa aku terjaga? Apakah hari ini ada yang akan memanggilku? Barangkali, membutuhkan jawab kabarku Bisakah, kau rasa terampas hingga kau terbujur beku? Jika tidak, aku akan bersiap tidur dengan kali ini  lebih lelap

Ghetini

Genggaman terkadang diikuti sayatan Tampak hitam pada ujung Sisa menelan terlalu banyak tanah Akibat kukuh mengeruk tambang emas Semestinya, tuk pahami Agar yang digenggam kan menelan Dan yang menggenggam cukup mengepul Terisi ... Nikmati saja darahmu dan asapku Itulah bayaran Untuk dapat saling bersentuh Melebur bersama