Rancuan Si Gila

Dengarlah,
Kini tak ada lagi suara sumbang
Mulai bernadakan, menghanyutkan
Sepertinya ... sepertinya ...

Batu nisan yang tergantung
Kini berubah jadi lukisan berwarna mentereng
Serta noda-noda lainnya
Yang tutupi debu, tampak
Sepertinya ... sepertinya ...

Pantas saja, tak ada lagi yang memanggil
Tuk berbagi payung
Dia sudah pandai membalut diri
Sepertinya ...
Hujan panjang ini, hanya aku

Beginilah terguyur, tanpa perlawanan
Meski beratap, namun tidak dengan dinginnya
Dirinya yang menari
Dan menarik jemari lentik lain
Buatku tak lebih dari sekedar penonton pentas

Aku tak paham, sejak kapan ungu mulai merambat
Seharusnya, aku sadar tuk pergi bukan memahat
Apakah karena terpukau?
Atau justru sakau?

Sejak kapan pemain baru itu hadir?
Bukankah, itu seperti aku?
Tempat yang ku isi
Naskah yang ku dalami
Mimik yang diperagai
Seperti aku, tapi seperti juga bukan aku

Sepertinya aku kembali berulah
Sepertinya dirinya yang tak berbeda
Sepertinya aku yang hidup hanya kemarin
Sepertinya dirinya, berlalu lebih hidup

Lucunya, aku hanya berpayung seperti
Dengan pikiran yang membeku mati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu

Ghetini

Apakah ini bayaran atas tenang?