Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Apakah ini bayaran atas tenang?

Tatap terakhir Ku temukan dirimu bersembunyi Di dalam sana, jeruji yang dingin Bias bersama genangan Yang kau usahakan tuk tak rintik Aku tahu, apa yang aku mau Dengan begitu jelas, terukir di pikiranku Namun kala ku lihat lagi Buram sudah Ku hanya ingin, kau tenang Lihat aku menari, Bernyanyi, Melukis, Wajah ku penuh dengan warna Bajuku begitu cerah Rambutku penuh gelombang Aku baik, aku baik saja Tak usah bertanya, perasaanku Bagaimana sakitnya, Lukanya, Tangisannya, Yang aku mau hanya kamu Namun, dengan tenang Sungguh ku rindu inginkan lebih Namun ku tahu rasanya tidak nyaman Terkekang di dalam pikiran Tolong jangan hukum Dirimu lebih dari ini Sekali saja Dengarkan aku Tenang, kau harus lepaskan Begitu tersiksanya ku, melihat kau rapuh Lebih dari berbohong Mengatakan, aku sudah bahagia Sejak kau pilih pergih Diujung tumpangan Ingatkah, aku mengucapkan  ' Terimakasih untuk semuanya, aku bahagia ' Di saat itu, Sesak dan bahagia terpita, jadi satu Setelah ini, aku ingin dapat k...

Apakah hari ini (pun tidak)?

Tidak hari ini Hitam, tak sedetikpun bercahaya Mati, tak sedikitpun bergerak Lumpuh Sengaja didiamkan di sana Namun aku yang mendekat Lalu menjauh Lagi mendekat Yang berubah hanya sekeliling Rasa-rasa takdir Firaun yang tenggelam Tidak dapat berubah Tidak pula tertukar Tapi diujung sana, ada harapan sedang menelungkup Bukan malu Hanya mengukung doa Khawatir terlepas Pun tertukar Kemarin ada, namun tak ada Hari ini tak ada, pun benar begitu Esok mungkin lupa bertanya Atau barangkali tak perlu Sudah tak lagi Benarkah? Masih pula tanya ini lahir Alih-alih beranjak Ia hanya kembali ke sudut Dekap doa, lebih

Apakah hari ini ada yang akan memanggilku?

Malam, terbangun Mengendus-endus udara Sudah pukul berapa ini? Raba-meraba jarum, tetumpuk tak berjalan Sudah berapa lama ini? Aku tahu bahwa pagi masih lama Tidak tahu kapan datang Bisa jadi, tidak tahu apakah akan datang atau tidak Hanya sekedar mengimani Entah iman yang benar atau tidak Bisa jadi, tidak, lalu tertimbun gelap selamanya Aku rasa, kini Iblis mulai bergantung di daun telinga Bisikan, tidur saja - kau tidak butuh bangun Aku mulai menarik gerai kelopak mata Jampi-jampi di ujung bibir mulai dimainkan Padahal aku sendiripun lupa Untuk apa aku terjaga? Apakah hari ini ada yang akan memanggilku? Barangkali, membutuhkan jawab kabarku Bisakah, kau rasa terampas hingga kau terbujur beku? Jika tidak, aku akan bersiap tidur dengan kali ini  lebih lelap

Ghetini

Genggaman terkadang diikuti sayatan Tampak hitam pada ujung Sisa menelan terlalu banyak tanah Akibat kukuh mengeruk tambang emas Semestinya, tuk pahami Agar yang digenggam kan menelan Dan yang menggenggam cukup mengepul Terisi ... Nikmati saja darahmu dan asapku Itulah bayaran Untuk dapat saling bersentuh Melebur bersama

Hai dan lalu Terimakasih

Hai Terimakasih Wajah penenang yang ku cintai Terpatri pada ingatan tanpa lerai Yang perlu kau percayai Kau baik Tanpa perlu dipindai Hanya aku yang tak pandai Semoga setelah ini kan lahir Banyak kedamaian tanpa mengancam diri Yang dipeluk rasa bersalah tanpa henti Bebas, kau telah bebas kini Hingga kau kan mampu berlari Bebas, kau telah bebas kini Aku tak sabar Bertemu kamu dengan wajah cerah Lengkingan suara Berteriak, Apakabar?! Lalu disaat  hari itu datang Kan ku jawab  seperti apa?

Aku telah sampai

Katanya, seluruh janji telah langsai Lalu ku berhenti Tanpa bertanya barang setitik Hingga ku sadar, bahwa aku telah sampai Pada akhir Yang buat semua mengalir Perlahan Terima Tanpa perlu pembelaan Juga tolak Meski terpantau tak diinginkan Tapi ku dapat lihat jejak, jutaan Cukup buatku tersenyum, lega Betapa hebatnya Aku dalam perjalanan Tanpa mengubah Baik - pada sebuah Nama Bulan dimana menjadi titik temu Kini kau tambahkan pula, sesendok senduh Sebelum kian hilang, biarkan aku Mengepulkan mantra untukmu Tuk dapat peluk damai tanpa jenuh

Anak Lelaki dan Sandalnya

Anak lelaki kehilangan sandal Ia bertanya pada seisi kota Tanpa ada jelas Dan tak ada satupun yang menjawab Sebab Anak Lelaki tersebutpun tidak tahu Hanya rasa hilang Dan sakit Yang tak dipahaminya

Hadiah

Aku jatuh cinta berkali kali padanmu sekalipun sembari mendayung  di padang pasir  dengan badai debu dari barat Mataku sudah tertutupi nestafa nafasku lebih hemat karena tak mampu lagi  membedakan yang mana ku perlu hirup  antara oksigen atau kenangan?  Aku tahu ini berat,  tapi aku selalu ingin bertahan pada masa  dimana aku hidup melalui debaran  yang dihasilkan,  tiap kali ku temui rupamu di palung pikiranku Pada malam yang menggigil Juga siang yang menghanguskan epidermisku Ku temukan keteguhan Tuk tidak melepaskanmu Namun tetap menggenggam diriku sendiri Karena kamu bukan hanya sekedar harsa yang kutemui dalam sebuah perjalanan Lebih, sayang ... Kau Tujuan yang telah dijanjikan Sang Ilahi Padaku Hadiah Yang ku dapati Jika aku Menjadi anak baik Di ujian abad ini

Ular

Ular ini membual Ia mengatakan bahwa dirinya cukup Tamak akan pengakuan Dari burung yang kian meninggi Ular terlalu lemah untuk membawa air Memikul tanah Mengaduk segala hal Agar dapat membangun tangga Hampiri Meskipun yakin, bahwa ular Mampu Nyatanya lumpuh Mampus saja kau Jangan menjadi hama Bagi Ia yang tengah mengepak-ngepakkan Kejayaan Di atas peti mati Untukmu

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu melalui berbagai sakit Karena aku tahu, Kan ku katakan mampu tuk menemani Setiap tangis Juga marahmu Kan tidak pernah beranjak Dari sisimu Kalau-kalau kau lemah Dengan dunia yang tak bawa kau pada damai Aku mencintaimu pada tiap detikku Jarum-jarum telah patah Menunggu ku berhenti tuk tak berdetak Kala ku dengar, Ku ingat Namamu Aku mencintaimu di tengah ramaiku Rudal kehidupan telah coba hantam Habis, poranda dimana-mana kan jadi bukti Tapi sudut nisan, batu ingatan nama kita Berdiri tegak, menyombongkan diri Tak tersentuh Hanya sedikit tertutupi debu risau Aku mencintaimu tanpa pamrih Ku kembalikan lagi pada Tuhan Gantikan tangan yang tak sampai Peluk Kala kau pilih jalan panjang Bersama lagu yang kini tak henti Temaniku Aku mencintaimu Lalu, Hari ini, Juga pada bilangan tak terbatas

Bolehkah?

 Aku harap Kau punya harap Lalu kita sama sama berharap Bolehkah jadi satu harapan? Aku ingin Kau beritahuku  Sehatmu, bahagiamu, kuatmu Jika benar, ku lanjutkan mengemis Pada Tuhan Sebab, itulah isi harapanku Tak banyak Namun padat Banyak yang dipinta Tapi bait kau, tersebar

Masa Panen

Badanku kian mengering Namun Rinduku tumbuh subur Tak habis masa panen Sebab Tuhan sirami ku  akan rasa cukup dan keyakinan luas Padamu, disetiap malam

Takdir Baik

Segenap takdir Tuhan pastilah baik, Ku imani itu Ku tasbihkan setiap waktu Juga ku selipkan hal baik lainnya Pun namamu

Sapa

Apa kabar? Aku rindu - sangat Perasaan ini masih sama besarannya Tak perlu lebih berkata Aku hanya pandai menjaga Tidak dengan melepas

Tabah

Habis-habisan memupuk rindu Perlu jua berbuih tuk diberi petuah Jangan mengatakan bahwa cinta kan datang Pada wanita yang telah gantungkan Jantungnya pada papan angan Jangan pula beri dia rendaman bunga Sebab bunga telah habis dipetiknya Diikat, lalu membajukannya dengan warna Berteriak pada ombak, Ia kan curi bahagia Mereka terlalu mengumbar Katanya, kan tumbuh seribu malam Nyatanya satu malampun tak diberi sisa Busung lapar sudah menunggu terisi Lambat waktu tinggal menunggu Tapi tabah kan jadi kudapan Setidaknya untuk malam Lalu malam selanjutnya Lalu fajar selanjutnya

Smara

Bagaimana cara mengatakan Sesuatu yang mudah Berulang terucap Tapi tidak kau pahami? Aku rindu Tapi aku tahu diri Cukup aku yang tertabrak sana dan sini Ulah rasa hausku

Rumah Tua

Rumah tua beratap orange itu telah dimiliki Oleh mereka yang dulu menetap Oleh mereka yang selalu memasak kebahagiaan Oleh mereka yang membakar hangat kala hujan berbagai air dan angin Kaki ku melangkah  Pada lantai berdecit, "perih" Ku usap dinding yang berdebu, nan dingin Mengetuk berharap kan ada yang sambut Gelap hampiri, perlahan Dan aku masih berada di pelataran Tepat pukul 7 ini dan lalu Masih pada di tempat yang sama Dengan mata berkarat Dedaunan melompat dan menari, bebas Terayun lalu jatuh di rambutku Mengisi bagian yang tak lagi terjaga Dengan telapak yang penuhi Tak ada ... Jangan salahkan atas fahamku kini Yang menjelma menjadi berbagai "aku" Tuk hentikan gonggongan kala pagi hingga petang Dengan tangan yang tak mampu hentikan Hanya telungkup Mohon ampun Tuk dapat duduk pada lantai kayu Lebih lama Menyambut kepergian Tuan Malam ke malam Ku tunggu,  kan selalu begitu Sebab Tuan kan bawa damai Kan selalu begitu Meski akulah sang bara Sering buat Tuan mele...

Gelabah

Kebulan asap ini menenangkan Pekat, barangkali seluruh beban ikut terhembuskan Dengan tatapan kosong sembarang Merongrong tanpa suara Tarikan terakhir Hembusan terakhir Hitam yang kian memangkas Namun gelebah tak kunjung ranggas

Swastamita

Langit sore ini merona Barangkali karena melihat sepasang yang saling berpelukkan Di depanku yang habis terguyur, malu Langit sore ini merona Tak handal tahan tawa Hingga memecah pipinya

Perayaan Sebuah Akhir

Pada awal ini, mari kita buat perayaan Perayaan yang tak butuh mewah Hanya ada aku dan kamu Lalu payung hitam, bertabur mutiara langit Baru genap satu menitmu Kau penjarakanku dengan tanya Mengapa kita di sini? Namun kau hanya beri rambu hijau Hilang, sisakan tapak Aku rasa sudah terlalu jauh  Anganku berlari tak mampu tertahankan Lagi lagi lagi lagi lagi lagi Kau dan seluruh sisamu Menyublim, matikan indraku Sudah bukan lagi pertama  Ketakutanku menyala dengan bara meletup letup, bak jeritan Tolong ... tolong ... tolong Memeras hati tuk keluarkan Darah dan air mata Serta makian Pada sang Ilahi Yang menyuarakan tuk mulai Yang perintahkan tuk meninggalkan Yang membujuk tuk merajuk Dan ... membelai tuk kembali Pada tempat seharusnya Mari kita buat perayaan Dimana sepenggal kata tergantung Bersamaan dengan pensil tumpul Dan kain yang memenggal suara

Lilin kehidupan

Lilin yang berada di lemari kaca akhirnya dikeluarkan Ku simpan di tengah, dengan berbagai manis mengelilingi Tak lupa ku petik pematik, menyala! Ku nyanyikan lagu yang ku ulang sendiri setiap bulan  ini Selamat Menua Lilin Selamat Menua Lilin Selamat Menua Lilin Kehidupan Semoga lekas luruh, habis ... sebab tak nyaman menyalakanmu berulang sendiri

Apakah Mawar Putih Itu Sudah Kau Buang?

Apakah mawar putih itu sudah kau buang? Mawar yang ku temukan sebagai pengganti lidahku yang kelu Warnanya tak menarik Namun, sudahkah kau mendengar mawar putih itu berbisik? Apakah mawar putih yang kau bawa pulang masih nyata dalam ruang lelapmu? Aku tak pandai mencari jam mahal, tapi prihal bunga kan ku usahakan Harap agar dapat temani setiap alur mimpi Juga bangun Saat tengah mekar (seindahmu) juga layu (sesuramku - kini) Apakah mawar putih masih mengharumimu? Seperti aroma laut yang kita nikmati Bersama coklat berpadu dengannya Aroma yang ku bawa pulang di saat kau membawa pulang tawa Masih adakah wewangian itu terkukung di sana? Apakah malam ingatkanmu akan mawar putih? Sebab pada malam itu, bintang-bintang berkata padaku Tuk pinta jagamu Tuk memohon agar bahagiakanmu Tuk doakan agar ku (dapat) menuntunmu Sebab malammu begitu gelap Seribu bintangmu tak bantu langkah Kau terlalu sering terjerembap Sisakan luka yang kau bopong pulang Bulan juga berteriak padaku Tuk haruskanku, pasti...

Ruang waktu

Tempat itu masih sama Buatku tertawa, derasnya juga Aku melihat sekitar Buat waktu melambat mundur berputar Bersama dengan wanita, si pendengar radio Ku ajaknya study tour pada bangunan luas itu Pendingin handalanku, dulu Tak lagi terasa Setibanya kami injaki, segalanya memanas Lelehkan lilin yang ku simpan Di balik bola mata Wanita itu bertanya tentang tata ruang Tepat saat kaki berhenti di lantai tiga Ini tempat Ia bertanya,  kamu mau makan apa ? Satu lantai di atas kita untuk,  nonton ini seru kali ya ? Sedangkan satu lantai di bawah cukup asik tuk lewati sekedarnya Lalu sampailah di lantai satu,  itu ada produk baru, mau lihat ? Habiskan uang untuk baluti diri Bila sampai lantai utama, kau  kan mengambil satu scop ice cream sembari menarikku tuk nikmati angin beserta lampu Berakhir pada lantai tanpa decor Tempat kau berkata,  Yang kencang, khawatir anginkan hempaskan kau saat di jalan nanti Tempat ku berkata,  Bagaimana jika kit a menetap di sini? Pende...

Prosa : Rest Area

Kita telah melewati banyak jalan dan tempat. Bersama denganmu Tuan, aku rasa semua perjalanan menjadi menyenangkan. Bahkan sekedar melihat lampu yang berbaris rapih di pinggir jalan raya saja, kan terasa lebih bermakna. Seperti pada persimpangan yang membuat kita berhenti tuk saling bersandar. Mereka sebut itu Rest Area, namun bagiku itu lebih dari sekedar Rest Area.  Ada banyak lagu yang selalu kau dengar dalam setiap perjalanan. Pun aku, juga begitu. Namun dalam perjalanan dengan kata "kita" di tengahnya, terasa lebih nyaring dari berbagai musik yang kita sukai. Nada itu, tak akan kau temui dari lagu di gawaimu. Perpaduan suara acak bahkan mungkin bisa jadi lebih dari sekedar sumbang sangat menenangkan. Semua berasal dari hati kita yang berbahagia dan kita gambarkan melalui tawa. Matamu menghilang tatkala tertawa di sampingku, di belakang kemudi yang setia kau genggam hingga sukses membuatku iri pada benda mati tersebut. Meski benar, kacamata berbingkai hitam bisa jadi yang...

Mimpi II

Mimpi kali ini sederhana Segala pesan puisiku terbalas Olehmu yang datang dan menjawab rangkaian tanya Aku terpaku namun langkahku mengikis padamu yang mulai tersenyum Senyum yang kuingat Lalu kurindukan setelahnya Kini jarak kami tidak lebih dari satu harsa Membuncah segala halnya Hingga aku mampu melompat Padamu yang membuka kehangatan itu Aroma yang ku pahami muasalnya Juga derunya jantung kami yang berlomba Mengepung gendang telinga Tulikanku agar tak ada yang mampu Menariku ke sadar kini

Laut abu-abu

Pemutaran kembali Hari di mana aku dan kamu Mengitari bibir pantai  Sembari menguntai jejak Di manakah angin membawa kita pergi? Burung camar menyambar pertanyaan Mencari jawaban Tentang rumah yang kini hilang Aroma asin itu mulai pudar Lain cuaca juga waktu Tapi pantai yang izinkan tuk menggulung ombak Hingga bibir tak lagi saling menyatu Kau terjeram pada pasir sedang aku tenggelam habis Suaraku tak sampai Pada Tuhan juga kau yang inginkan ku tuk bernyawa bukan tersedak dalam tawa Masih bisakah kita bertatap? Dua empat tujuh tanpa hambat Bergulat dengan cara yang kita sukai Diakhiri dengan usapan lembutmu pada pangkal tubuh buat luluh aku

Bab akhir ; Tuan - Puan

Tuan, terimakasih atas tumpangannya Perjalanan ini membawaku begitu jauh Pada berbagai hujan dan pelangi Juga fajar dan senja yang kita datangi Tuan, mungkin benar Ada kalanya kita perlu berhenti Pada persimpangan meski tak berlampu Merah ataupun hijau Hanya sorot kuning yang bias pada bintik air Dengan kepulan laron temani Tuan, kita terlalu gusar tuk lanjutkan Apa-apa pada jalan yang tak berujung Namun begitu banyak kelok, buatku mual dan kau keluh lelah Kita mestinya tinggalkan jalanan dengan tenang meski ragu Tuan, aku melihatnya Tampak payung merah muda itu telah lama Hampiri kau dan sajikan teduh Juga senyum itu yang buat kau luluh Tuan, Kini aku tak lagi tenggelam Pada ragu itu Ada kunang-kunang yang tuntunku Begitu suka menari dan kelilingiku Buatku, menatapnya dengan tawa Untuk Tuan Dari Puan Agar Tuan dapat meramu lebih banyak Dan Puan meminum ikhlas dengan segar

Itik

Itik tetaplah Itik Dan lalu burung merak yang bersarang emas kan selalu jadi burung merak Tak akan pernah berubah Meski bertukar kartu takdir Pada akhirnya Itik hanya bisa berenang Tutupi sekujur dengan lumpur Tidak, Ia bukan takut dimangsa Hanya takut jika ada yang memanggilnya Itik dibubuhi buruk dan rupa Itik sekedar ingin bermain Tak ada maksud tuk bersolek Atau memayungi diri dengan puja Itik ingin bernafas hingga tertidur panjang ditemani tenang

Jatuh

Prihal jatuh cinta pada orang yang salah apakah itu sebuah kesalahan? apakah aku salah karena terjatuh? atau kamu adalah orang yang salah? Bagaimana caranya orang bisa berkata demikian? Bahwa cara jatuhku adalah salah Kamu adalah salah Lalu siapakah yang benar? Sejatinya jatuh, ya tentu tanpa undang jatuh tetaplah jatuh tapi tidak ada jatuh dengan sigap jawab mereka terlalu banyak bertanya dan aku tetap jatuh Jatuhku kini sudah genap dua tahun Remehan hari sisanya mari kita hitung nanti Sebab jatuhku tak bisa sambil berhitung Hanya bisa sedikit berkata kasar, memaki tanah yang nakal Jatuhku bisa tampak dari sekujur tubuh Babak belurku Habis dengan bercakkan biru bukan, ungupun tak yakin Juga rasa sakit yang menggigil dan merintih termasuk tak bisa dibayar terpisah Jatuhku tapikan masih berlanjut Meski tangan yang membantuku sebelumnya, telah pilih pulihkan diri Dia, juga jatuh bersamaku di atasku kadang juga di bawahku kami jatuh bersama tapi hanya aku yang masih tersungkur dengan waja...

Hilang

Kamu menghilang Aku tak lepas pandang Pada hamparan cahaya luar Berharap kan ada yang datang Bukan tamu,  hanya sebuah kehadiran kembali Lalu aku kan buka seluruh dan kita kembali telusur Waktu yang sempat henti berdenting Pada pukul satu Kamu menghilang Aku tak henti harap Memintai nilon tuk membuat selimut Hingga saatnya datang Kan ku tutupi kau dengan untaianku kembali Kamu menghilang Dan aku percaya kata kembali Meski ratusan ku ajukan maaf Pada Tuhan Pada sehatku Juga padamu Yang barangkali ada rancuanku sampai  berkat belas kasih Tuhan

Pelangi

 Ada berkah di balik resah Tidak, aku tak ingin Lalu semua acungkan pelangi terbentang pada ujung jalan, samar Tuan Aku hanya ingin menetap pada batu yang sempat dijadikan kau pembela diri padaku yang tak tahu diri Yang masih bertanya kapan lagi abu mengatapiku Buatku basah Bersamamu  

Satu Tahun

Hirup pikuk pada jalan pertokoan Kami membeli secarik kebahagiaan Tuk melengkapi tapak kaki Juga jari yang saling bertaut Adapula kami memasak kehangatan Dia, si handal yang paham kan kebutuhan Terlalu hangat dan bahagia Lupa bahwa ada pulang Pisah Terpisah Tak menetap Tak seatap Tak menatap Selamat satu tahun foto lama liburlah selamanya Jangan lekas kembali ke peradaban ini

Cuitan Pekan Ini

Orasi burung hari ini Menentang hujan di balik jendela Ketuk jendela berulang tuk ingatkan Tak sepantasnya banjir saat sengat matahari tak berkesudahan Hanya untuk cuitan bahagia yang tak bawa bahagia tidak bahagia tidak

Cerpen : Waktu Memotong Kue

Bagaimana cara menikmati kue tanpa mengubah bentuknya?  Pertanyaan itu terkesan bodoh namun sejujurnya sering kali terlintas di pikiranku selama ini. Aku bukanlah wanita yang menyukai hal-hal berat untuk dipikirkan. Seperti halnya berpikir tentang menginginkan suatu hal yang sangat mewah untuk aku gunakan atau mungkin cara menabung hingga bisa mendapatkan gelar milyader. Tidak, itu tentu bukan aku. Hanya saja, kali ini mungkin berbeda, dimana aku sedang tidak menjadi diriku. Perasaan ini cukup lama mengepungi hati dan pikiranku. Kehidupan sederhanaku perlahan mulai tergerus dengan kehadiran perasaan 'orang bodoh' ini.   Hari inipun sama. Entah tarikan nafas ke berapa hingga Ani, rekan kerja di sampingku mulai merasa kejanggalan. Meskipun rasa terusik Ani sangat ingin Ia gambarkan melalui pertanyaan, namun Ani sepertinya cukup menghargaiku dengan kondisi meja penuh dengan berbagai dokumen berharga yang akan segera berakhir menjadi benda tak bernilai di mesin penghancur ker...

Sepatah kata

  Maaf

Mimpi

 Kita berdansa di atas embun Rona fajar yang khas  menjadi dekorasi pesta Tak lupa para burung bernyanyi la la la na na na ya ya ya Lebih indah terdengar  dibandingkan suara ketukkan Ibu  di balik pintu -bangun-

Penulis

 Aku sang penulis puisi Kamu sang tokoh  yang hidup dalam mimpi Aku yang hanya bisa menulis Namun berulang revisi, tak cakap tuk sekedar jujur pada diri sendiri juga pembaca tentang tak mampu lanjutkan menulis tanpa tidur

Wanita (ini)

Wanita ciptaan Tuhan  yang bercela banyak Pada waktu menciptakannya, Tuhan tengah lengah Barang kali di malam gulita Sehingga tak tampak kurangnya Bodoh adalah ciri utamanya Mudah kan beri seluruh miliknya saat ada yang berkata bahwa dirinya berharga Nafasnya saja tak bernilai Sebab sesak sering terjadi setiap kali Ia memohon tuk sesuatu yang belum terwujud Senyumnya terlalu murah Sekedar membaca pesan lama, Bangun dari mimpi hangat, Atau bahkan ... Bahkan begitu murahnya Ia hanya bisa menulis angan yang tak pernah diaminkan dengan senyuman betapa bodohnya wanita ini

Rakus

 Pertemuan kami di kotak kecil Aku diberi waktu olehnya untuk menatap Katanya, wajahku terlalu gusar Perlu sedikit amunisi, setidaknya untuk mengisi pipiku  yang tampak cekung hingga bahuku yang mulai melorot Sialnya, kau benar Tapi kaupun lupa Aku rakus Bagaimana jika ku bawa pulang saja kau?

Berita Batal Cetak

Manusia di dunia ini begitu banyak Bukan hanya ada aku Lalu kamu Serta aku dan kamu Terlalu banyak Namun hanya kabar berita  "kita bersama"  yang batal cetak