Cerpen : Waktu Memotong Kue
Bagaimana cara menikmati kue
tanpa mengubah bentuknya?
Pertanyaan itu terkesan bodoh namun sejujurnya sering kali terlintas di pikiranku selama ini. Aku bukanlah wanita yang menyukai hal-hal berat untuk dipikirkan. Seperti halnya berpikir tentang menginginkan suatu hal yang sangat mewah untuk aku gunakan atau mungkin cara menabung hingga bisa mendapatkan gelar milyader. Tidak, itu tentu bukan aku. Hanya saja, kali ini mungkin berbeda, dimana aku sedang tidak menjadi diriku. Perasaan ini cukup lama mengepungi hati dan pikiranku. Kehidupan sederhanaku perlahan mulai tergerus dengan kehadiran perasaan 'orang bodoh' ini.
Hari inipun sama. Entah tarikan nafas ke berapa hingga Ani, rekan kerja di sampingku mulai merasa kejanggalan. Meskipun rasa terusik Ani sangat ingin Ia gambarkan melalui pertanyaan, namun Ani sepertinya cukup menghargaiku dengan kondisi meja penuh dengan berbagai dokumen berharga yang akan segera berakhir menjadi benda tak bernilai di mesin penghancur kertas di pojok ruang. Adanya peralihan data cetak ke data digital baru-baru ini membuat tim administrasi tampak seperti zombi dengan tambahan koyo di punggung, leher dan pergelangan tangan. Masalahnya, data-data yang harus dipindahkan ini merupakan artefak perusahaan di awal periode pengembangan dan tentu saja pada saat itu mereka masih menggunakan teknologi sederhana dan hanya mampu menyimpan berkas secara cetak. Berbeda dengan zaman kekinian yang kini seluruhnya dititipkan pada pihak perbendaharaan data berlogokan awan itu. Kebodohan lainnya adalah bahwa pimpinan kami yang sudah melewati setengah abad itu tak izinkan kami untuk menggunakan teknologi scan. Beliau meminta untuk diketik ulang-satu-per-satu. Kecerdasan generasi boomers memang tiada tanding untuk generasi ku yang sangat mencintai kemudahan ini. Perbedaan generasi inilah juga yang menjadikan alasan betapa seringnya aku mengkonsumsi kopi hitam beserta sumpah serapah ditiap waktunya.
Tentu dalam sebuah tempat kerja tidak hanya memiliki sumber masalah di satu objek saja. Beberapa anak magang yang sengaja kami rekrut untuk memudahkan pekerjaan divisi ini juga menjadi sasaran lainnya. Mereka generasi yang berbeda denganku dan justru lebih sangat mencintai dan akrab dengan teknologi (katanya) memiliki 'fakta menyenangkan'. Kami baru saja memuntahkan kalimat yang sangat luar biasa (tidak) terpuji karena mendapati bahwa ketiga adik magang kami ini tidak bisa masuk dikarenakan kelelahan kerja yang di luar jam kerja kontrak secara tiga hari berturut-turut. Anggit, temanku selain Ani tentunya di divisi ini sudah mengeluarkan tanduk dan sayap hitamnya sejak jam 7 pagi tadi setelah mendapati kabar tersebut.
Sekilas balik sedikit saja, tiga pekan ini kami bertiga menghabiskan pagi hingga tengah malam kami di kantor dengan pekerjaan tercinta kami ini. Melihat totalitas kami sepertinya mampu meluluhkan sang maha kuasa di kantor kami dan berakhir perekrutan karyawan baru dengan masa magang 3 bulan terlebih dahulu. Adik-adik yang manis kami dan berpenampilan sangat modis (dimana berbanding terbalik dengan kami para seniornya yang sudah tampak suzana) menjadi pusat perhatian dan perbincangan kantor, tentunya dikalangan para lelaki. Tapi naasnya, adik-adik manis tersebut sangat tidak mampu bekerja dengan kami. Sempat rekan berbeda divisi dengan ku mendengar mereka bertiga membicarakan kantor ini dengan sebutan 'hutan' dan kami bertiga selaku senior disamarkan dengan nama harimau, macan dan kelinci. Dari penyebutan tersebut, aku dan Anggit setuju bahwa kelinci sudah pasti Ani sehingga antara aku dan Anggitlah si hewan buas sisanya. Keluhan mereka mengatakan bahwa bekerja dengan sistem rodi tanpa istirahat dan juga lembur setiap hari. Hal itu tidak seratus persen salah, sebab kami menyarankan mereka untuk makan di ruang kerja saja sehingga bisa sekaligus menyicil pekerjaan agar mereka bisa pulang tidak begitu larut. Hal ini aku dan Anggit sampaikan setelah melihat cara bekerja mereka yang memang belum secepat kami namun target data untuk mereka sangatlah menumpuk. Adapun beberapa file tetap kami kerjakan agar mereka bisa pulang lebih dahulu di pukul delapan malam dan sedangkan kami di pukul 11 malam. Dipagi harinya, kami sepakat sampai di kantor pukul 7 pagi agar bisa selesai lebih cepat. Untuk karyawan lain, termasuk dengan anak magang tetap mengikuti jadwal biasa, pukul 8 pagi. Namun malamnya, kami tetap lembur seperti sebelumnya dikarenakan para adik-adik tersayang kami izin sakit magg secara bersamaan di jam pulang kantor normal. Luar biasa kompaknya, bukan?
Sudah selesai jam makan siang, namun Ani tetap berusaha menenangkan hati dua teman tersayangnya. Tentu Anggit dan aku yang sangat-sangat berbeda dengan Ani masih dalam mode membara karena sejujurnya tubuh kamipun sudah sangat remuk, ditambah mendengar berita para pahlawan yang nyatanya tidak jadi membantu itu tidak masuk dan dengan alasan yang, ahh sudahlah. Aku melihat Ani masuk ke ruang pimpinan kami dan mungkin berlangsung 10 menit di dalam, lalu kembali dengan wajah tersenyum menghampiri kami. Ani mengatakan bahwa dia sudah minta izin untuk kami pulang tepat waktu agar kami bisa sedikit bersantai setelah sebulan tidak memiliki waktu selain bekerja. Mendengar tersebut, tanduk dan sayap hitam Anggit mulai menyusut hingga menampilkan wajah bahagia dari kami berdua.
Kami bertiga memutuskan untuk bersantai sejenak di sebuah taman dengan berbagai macam kaki lima yang mengitari taman tersebut. Berbagai kantong berisikan kudapan yang telah kami beli menjadi peneman kami untuk duduk lesehan di lahan berkontruksikan semen padat. Satu per satu kudapan dan minuman kami cicipi dan saling memberi komentar. Khusus untuk Ani, wanita tersebut hanya mengangguk dan berkata 'enak' dan sisa kritik lainnya bersumber dari aku dan Anggit. Pembahasan mengenai asupan lemak dan permecinan kami teralihkan saat kami mulai menyadari bahwa taman tersebut kini berisikan para pasangan berbagai usia. Mataku dan Anggit mencoba mencari sosok yang mungkin senasib degan kami. Tapi ternyata tidak ada.
"Ahh, apa mereka tidak bosan bergandengan seperti itu, cih." Kata Anggit dengan nada khas timurnya.
"Suttt, tidak boleh seperti itu, nanti terdengar" sahut Ani.
"Kau tarik saja abang es doger tadi Git biar tidak iri." Akupun tidak ingin kalah.
"Hey, enak saja. Kau sajalah sana! Aku tidak butuh lelaki. Nanti hidupku sial seperti Ibuku yang tidak perna bahagia setelah bersama lelaki itu."
Mendengar itu, aku dan Ani tidak bisa lagi berkomentar. Anggit lahir dari Ibu yang berjuang sendiri untuk membesarkannya, sedangkan 'lelaki itu' yang sebenarnya adalah Ayah kandungnya tidak berperan baik dalam hidupnya. Ayahnya adalah lelaki pemabuk dan penjudi akut dan tidak pernah bekerja. Uang sebagai modal untuk kesenangannya itu dia dapati dari sang istri yang bekerja tanpa henti di beberapa tempat sejak Ia dinikahi oleh lelaki tersebut. Akibat perjodohan yang tidak bisa ditolak, Ibu Anggit hanya bisa menjalani kehidupan yang jauh dari kata bahagia. Barangkali ada rasa bahagia mungkin terpatri di wajahnya sejak Anggit ada di dunia ini. Sejak bayi Anggit menjadi anak sekaligus teman dimanapun Ibu berada. Tak terkecuali di tempat kerja sekalipun. Anggit yang memiliki paras cantik dan mudah bergaul sehingga dicintai oleh semua. Tapi tidak dengan sang Ayah. Ibu Anggit menghembuskan nafas terakhir diusia Anggit genap 17 tahun. Sang Ayah yang tidak menghadiri pemakaman juga tidak peduli dengan petuah dari berbagai pihak untuk bisa bertanggung jawab atas Anggit. Sang Ayah hanya memaki dan tak lama mengusir Anggit dari rumah dan membiarkan Anggit hidup dari satu rumah ke rumah saudara lainnya. Biaya sekolah setelah kepergian sang Ibu Ia dapatkan dari pekerjaan sampingannya di berbagai tempat setelah pulang sekolah dan bahkan hingga Ia berhasil kuliah. Sejak itu, Anggit bertekat untuk tidak akan memasukan kata LELAKI dalam hidupnya agar tidak mengalami seperti sang Ibu.
"Ra, bagaimana denganmu?" Tanya Anggit.
"Aku?"
"Iya, kamu Ara. Sudah 2 tahun. Apakah kamu tidak ingin mencoba kembali?"
"Ahh, itu ..." Aku hanya diam sembari melihat langit. Langit kali ini kosong. Hanya hitam. Seperti pikiranku saat mengetahui bahwa ini adalah tahun keduaku sendiri setelah patah hati terhebat di hidupku.
"Kalau berat, tidak apa-apa ra. Tidak perlu dipikirkan." Ucap Ani sembari mengusap bahuku.
"Ahh, ini tidak berat. Tidak seberat kalian berdua. Hanya patah hati anak muda biasa."
"Tidak ada patah hati biasa. Semua patah hati menghasilkan rasa sakit yang nyata. Tidak perlu pebanding."
"Bukan begitu, Ani. Aku tahu cerita Anggit dan rasa kebencian dengan Ayahnya. Terlebih kamu yang sudah ..."
Ani tersenyum, lalu melanjutkan kalimatku yang patah karena rasa tak enak, "Aku yang telah ditinggal lelaki berstatus suami, juga kehilangan anak kami yang lahir prematur, beberapa jam setelah kelahirannya. Ya, itu cerita hidupku. Begitu juga Anggit dan segala kebenciaannya. Lalu kamu? Perasaan sakit itu benar adanya, Ra. Aku sering melihat kamu menangis, Ra. Pada saat pagipun, kamu baru saja menangis bukan?"
"Ini rasanya berlebihan, Ani. Perpisahan kami tidak bernanah seperti ceritamu ataupun Anggit. Menyadari fakta sudah dua tahun aku menangisi hal kosong itu adalah sebuah kebodohan."
"Kau ini memang bodoh, Ra. Mengatakan kalau kau menangis untuk hal kosong dan bodoh selama ini, benar sebuah kebodohan." Cercah Anggit. Jika orang lain mengatakan bodoh rasanya bisa saja ku tonjok mulutnya, tapi Anggit adalah pengecualian. Wanita asal timur itu adalah wanita yang paling kutakuti. Walaupun sebenarnya akupun tidak paham maksud dari tanggapannya itu. Hanya fokus dengan kata bodoh. Sial.
"Anggit benar, Ra. Perasaan sayang terhadap seseorang itu adalah anugrah. Jika kita menangis karena merasa kehilangan, itu wajar. Entah sehari, sebulan, setahun, dua tahun, bahkan 1 windupun tak masalah. Justru kalau kamu berpikir itu bodohlah yang salah. Anggit maupun aku juga menangis. Kita bertiga memiliki waktu duka masing-masing yang berbeda. Tidak perlu dipaksa. Berjalannya waktu, kita akan menemukan waktu bahagia kembali. Bahkan, awan abu tak selamanya mengabu, bukan? Barangkali orange karena terkena biasan matahari terbenam? Atau putih?"
"Catat itu, Ra. Bagus sekali itu." Pekik Anggit membuat kami berdua tertawa.
"Jikalau sampai waktunya tiba, kita akan berada titik damai yang kita dambakan. Bagaimana rasa damai itu?" Ani tersenyum dengan mata mulai menggenang. Aku bisa melihat pengharapan besar bersatu lanta dengan sakitnya. Entah kalimat seperti apa penggambaran yang sesuai untuk sakit yang Ani lahap selama ini. Tak ada kebencian, namun tetap mengiris bagi siapapun yang dapat memahami nanar tatapan itu. Aku dan Anggit hanya bisa memeluk. Peluk yang tidak bisa membuatnya pulih seutuhnya, namun hanya sebagai pengingat bahwa kami ikut serta mendukungnya selalu. Peluk itu juga menghantarkan kehangatan bagi aku maupun Anggit yang tak juga berbeda dari Ani.
Setelah sekian tahun kami menjadi rekan se divisi hingga teman curhat membuat kami paham akan satu sama lain. Hal itu juga mempengaruhi dalam pekerjaan kami. Kami saling membantu dalam kesulitan. Ada beberapa hal yang memang tidak kami pandai namun dapat tertutupi oleh satu atau dua lainnya. Begitupun pada saat salah satu tengah tenggelam di masa yang buruk. Sesekali bayang-bayang gelap itu kembali menghantui. Jika salah satu tengah ada di titik tersebut, dua lainnya tidak akan menerobos dengan pertanyaan brutal ataupun menenangkan. Kami sadar, kesedihan bukanlah aib ataupun kejahatan sehingga kami akan memberikan ruang lebih agar dapat sedikit merebahkan diri. Sisanya, kami akan coba untuk memberi kebahagiaan sedikit demi sedikit. Jika dirasa diri sudah mulai bisa terbuka dan membutuhkan solusi atau sekedar ingin memuntahkan beban, barulah peran utama sebagai teman cerita hadir. Mengalir dengan apa adanya, tanpa paksaan.
Sepulangnya kami dari persinggahan di taman yang sangat menyenangkan itu, aku memutuskan untuk menaiki bus yang membawaku ke halte tak jauh dari halte kos. Aku melihat berbagai macam bentuk cahaya. Juga dengan kehidupan di sekitar cahaya tersebut. Semakin lama membuatku terlarut akan momen aku berada di pelukkan Bunda. Hari patah hati terhebat yang pernah kurasakan, ku rayakan dengan suara tangis di dalam dekapan Bunda dan bahkan hingga saat ini masih cukup menggentayangiku. Aku masih ingat di mana tubuhku bergetar dan suaraku yang serak. Bunda hanya memeluk dan mengusap sembari mendengar rengekkan bayi kecilnya yang baru saja patah hati untuk pertama kalinya ini. Pada telungkup leherku, aku bisa merasa basah. Ada air yang mengenai bagian belakangku. Hal yang paling memungkinkan bahwa itu berasal dari air mata Bunda yang ikut merasakan sakit bersamaku. Wanita yang selama lebih dari dua puluh lima tahun ini ku anggap terkuat di dunia, ternyata bisa hancur bersamaku. Tak lama Ayah datang dan ikut memelukku.
Setelah aku berhasil untuk kembali mengatur nafasku yang terpenggal karena sesak yang mulai kambuh, Bunda memberiku minum dan menenangkanku dengan kalimat ajaibnya. Kalimat itu begitu ajaib sehingga aku rasa hanya Bunda saja yang mengetahui segala cerita namun memberikan tanggapan luar biasa,
"Dia anak yang baik. Bunda percaya itu. Tolong jangan membenci anak baik ya nak. Doakan segala hal baik untuknya juga untukmu."
Rasanya kali ini aku menemukan kalimat pelengkap dari petuah Bunda. Ani, wanita dengan ribuan luka di hatinya masih mempersilahkanku untuk berkubang di lumpur ini. Bisa jadi bukan hanya aku, tapi kami bertiga sebenarnya masih di titik yang sama tanpa peduli banyaknya luka. Kami miliki luka masing-masing dan membutuhkan waktu yang berbeda pula. Tanpa harus membenci, mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat keluar dari kubangan lumpur tersebut. Tapi apa yang Bunda sampaikanpun bukanlah hal yang salah. Berdamai tanpa rasa benci dan justru mendoakan terbaik untuknya adalah tujuan akhir yang harus bisa ku usahakan. Begitupun Anggit dan Ani.
Pada akhirnya, akupun harus kembali tersadarkan bahwa setiap rasa itu adalah anugrah. Juga miliki seseorang yang kini memilih menulis pada lembar yang berbeda denganku. Dia, ayah dari Anggit juga mantan suami Ani adalah anugrah Tuhan yang diberikan untuk kami. Aku masih ingat, Anggit pernah bercerita bahwa Ayahnya membelikannya Es krim coklat kacang dan itu menjadi favoritnya hingga kini, juga Ani yang melewati fase ratu dan raja kampus bertahun-tahun yang begitu indah.
Bab terakhir pada buku kami memang cukup membuat pembaca kecewa. Bisa jadi, sang penulispun merasakan kekecewaan lebih. Akhir tetap akhir. Dan inilah kami. Tiga wanita yang bergelut dengan rasa sakit akan lelaki luar biasa di hidup kami. Lelaki yang meminjami kami berbagai bahan untuk kami pergunakan sebagai adonan kue yang begitu cantik. Meskipun penampilan yang begitu indah, sebuah kue tetap perlu dipotong untuk dinikmati bukan? Bagian yang mungkin tidak ingin dilakukan, namun perjalanan singkat hari ini telah menghasilkan pisau kue. Pisau kue yang dibuat dengan begitu kokoh dan tajam perlu digunakan agar dapat memotong kue tersebut. Membiarkan bagian per bagian berseluncur di dalam mulut dan mulai menjelajahi rasa dan tekstur. Hingga aku dapat merasakan bukan hanya ada rasa pahit dari bubuk coklat namun juga manis yang melebur di sana. Rasa manis itu sama dengan yang kunikmati bersama lelaki bertubuh tegap di balik kemudi, saat kami tengah memecah kota melalui nyanyian, tawa dan dekapanku dari belakangnya. Aku mengingatnya. Dia adalah rasa manis yang ku nikmati selama ini dalam kerinduan. Dan dia jugalah lelaki berhati baik itu yang mampu memenangkan hati Bunda pun aku. Kini yang perlu ku lakukan untuk membalas segala baik dimasa itu hanyalah bercerita seraya menyelipkan doa pada Tuhan.
Perjalanan bus ini masih panjang. Entah berapa pemberhentian halte lagi yang perlu aku lewati. Namun, bersama dengan jawaban yang telah ku genggam rasanya bukan lagi jadi masalah. Aku dan ketidak mampuanku untuk munafik lebih jauh dari rasa patah hati telah menjadikan jawaban atas perjalanan hari ini sebagai pemandu langkahku selanjutnya. Membiarkan diri tergenang dalam rasa seperti ini adalah bagian dari kehidupan. Biarlah terjadi. Tenggelam atau bahkan terbawa oleh arus hingga menemukan sebongkah batu yang cukup untuk memberhentikanku. Semuakan ada waktunya tepat seperti yang Ani sampaikan. Begitu juga dengan Anggit dan Ani itu sendiri.
Saat ini aku tengah menunggu waktu di mana aku maupun kedua temanku dapat memotong dan menikmati kue dengan rasa penuh damai tanpa rasa takut yang selama ini telah menemani kami. Rasa takut akan ditinggalkan juga remahan kekecewaan yang jatuh berserakkan begitu saja. Tapi kedamaian menutupi segalanya dengan hanya mengingat pancaran tulus pada setiap mata dalam ingatan usang dan hati yang nantinya kan mampu berkata 'tak apa' juga 'terima kasih' untuk pemilik sepasang mata itu.
Komentar