Postingan

Menampilkan postingan dengan label poem

Lelaki di dalam belenggu

Gambar
Masuki ruang ini kembali? Hanya dalam mimpi,  sekedar mimpi  bukan berarti di dunia nyata Atau bahkan memang tidak terbangun Memilih tidak terbangun Apa yang kau cari? Kekosongan ini membuatku tidak penuh Seperti telah menuang kopi pada cangkir Tak henti, namun tak kunjung terisi Benarkah kopi yang kau tuang? Cerutu pengganti dupa Biarkannya terbakar perlahan, sangat perlahan Kan ku tunggu hingga habis terbakar Benarkah sekedar menunggu? Tak pantas ajarkan rindu pada seorang lelaki Lelaki tumbuh karena rasa sakit Rindu hanyalah belenggu bagi lelaki lemah yang merajut ulang ingatan lama lelaki hanya perlu tamparan tendangan makian Agar Ia hidup Lantas, sedang apa kau di sini? Lelaki tak perlu menjawab Menjelaskan membuat dirinya bodoh Bodoh bukanlah aku Aku adalah lelaki yang tak berputus asa hingga mengharuskan bicara Aku akan bersandar saja Tak apa jika sedikit mengenang Menapaki jejak lama pada tiap tapak yang sama hanya akan membuatku terperangkap Tak ada perangkap, kita ad...

Hi, Desember Telah Tiba : Harapan dan Kehilangan Di Penghujung Tahun

Gambar
Akhirnya sebuah akhir datang Mengapa menunggu akhir? Sebab ada awal yang dijanjikan diakhir Lalu apa itu akhir? Lalu apa itu awal? Seperti kata para peramal Desember adalah penentu perubahan Sial, kali ini apakah perlu percaya dengan ramalan? Tidak Tapi sepertinya putus asa tahun ini Biarkan saja ini  Berputus asa? Tidak Hanya biarkan saja ini Lalu semua mulai berputar Dua puluh enam tahun yang tidak terjadi Rasa-rasa baru satu tahun hidup Dan lalu berakhir di Desember Biarkan saja ini Berbagai kemungkinan sudah terjadi disebelas bulan ini Seperti apa? Seperti sebelas bulan yang sudah terjadi Bagaimana itu? Lebih memelas dibandingkan dua puluh lima tahun yang sudah terjadi Terlalu rumpang Dan memang disiapkan tak lengkap Bagaimana cara melengkapinya? Dengan cara membuat Desember sebagai awal Biarkan diri ini menarik kembali apa yang sudah lama hilang Bersembunyikah? Tidak Ia pilih hilang Mengapa tak dicari? Karena Ia yang memilih hilang Hingga peneliti telah lelah dan duduk sebagai...

Potongan Film

Gambar
Malam ini lalu lintas begitu padat Ku temui gerumunan pada banyak titik Baik yang bersembunyi di balik jas hujan maupun di bawah atap besi berjalan Semua pendatang hanya pergi berlalu Sepertinya banyak orang mengarah pada jalan pulang Entah untuk apa atau siapa yang menunggu Hingga tampak berang dengan beradu suara Dan lupa akan basahnya tubuh Memandangi setiap kali lampu berwarna ceri tengah mendapat giliran Ronanya membias karena air hujan yang mengepunginya Semua patuh menunggu dihadapannya Meski dengan riuh cerca di kepala Aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan? Saat lampu tak bergerak Juga dengan jari mengeriput Hingga wajah yang terbasuh berulang Dengan helaan nafas ku coba nikmati sekitar Tepat di arah tenggaraku, saling berpeluk dan cerita hujan di lain hari dengan suka cita Sedikit bergeser ke arah timur, tengah mengamankan sekotak makanan dibalik bungkus plastik yang naasnya tak halau dingin Juga dari arah baratku, sepaket keluarga cemara dengan wanita yang mengusahakan diri...

Hari Akhir

Gambar
Siang berganti malam Begitu juga terangnya, dan-lalu-gelap Begitu juga panasnya telah tertiup Dan begitu juga ramainya,  tertelan hingga habis menyisakan senyap Ku lihat semua berjalan begitu cepat Dengan telapak kaki di sembarang arah Baik pada tanah yang basah dan ubin yang dingin Baik dengan jejak yang terbentuk hingga yang berakhir,  dimana lainnya itu? Tanyaku, mengapa berganti dan tak biarkan saja semua sama? Seperti pada lemari gelas kaca milik sang petuah dihari doa baik Gelas yang terawat dan berakar Meski lupa akan tujuan terbuat Tanyaku, mengapa berganti dan tak paksakan saja semua sama? Tak perlu sibuk merancang nanti Cukup peluk hari ini untuk berhenti Hingga sedikit mengeratkan peluk yang tak peluk sampai bisa tak bercerai Tanyaku, mengapa berganti dan ikhlaskan semua? Namun hanya hening kudapat Dan bayang hitammu yang mulai merabun Ku rasa sadarku tak dapati jawab dan termakan tanya Barangkali ada yang ingin bicara dan mulai jelaskan Bukan dengan hujan yang mula...

2000 - 20

Gambar
Dua ribu dua puluh  Banyak tanya yang akhirnya mendapatkan jawaban  Kata damai seperti mudah ditemukan  Hasil dari #dirumaaja yang menjadi selogan di era tersebut  Dua ribu dua puluh  Hangat dirasa namun sangat sederhana  Seperti sup buatan Ibu pagi itu Tepat akhir pekan meski kalender kini tak lagi kami butuhkan seperti sebelumnya  Dua ribu dua puluh  Tak nampak lagi perbedaan antara gelap dan terang  Matahari dan bulan tak di izinkan Ibu tuk kubiarkan masuk kedalam  Sekedar pengingat, apakah hari sudah berganti atau justru sebaliknya  Dua ribu dua puluh Meski genap sudah setengah tahun Tapi berteman dengan kasur tak perna buatku bosan Tidak denganku, entah dengan sang kasur yang tidak lagi dapat berlibur kerja lebih lama Dua ribu dua puluh Seperti teh hangat di ruang kerja bapak dengan lampu redupnya Meski keruh, tapi manis dan menenangkan Tak apa jika ada sedikit pahit yang tercecap di lidah Anggap saja itu bonus agar indra penge...