Postingan

Menampilkan postingan dengan label perjalanan emosi

Perayaan Kembang Api; Sebuah Kenangan dan Kehilangan

Gambar
Kini langit menghitam Mulailah lampu-lampu dihidupkan satu persatu Memperlihatkan sepinya jalan di sana Jalan yang berakhir pada sebuah rumah Dari kejauhan tampak seseorang di bawah penerangan langkah memangkas jarak Melambai-lambai tuk beri tanda Telah sampailah sang pedamba Wajah bulat itu memerah Terdapat binar-binar yang terpancar Juga rekah senyumnya Berteriak tuk sampaikan suka cita pada dunia Aroma bunga semakin dinikmati habis olehnya Tatkala pelukan terbuka dan siap menerima Dan mulai mengurai segala rindu Entah sebagai penutup atau pembuka pada bagian lain Hadiah kali ini adalah kembang api Perayaan kesekian kalinya pada setiap pulang Perayaan yang menjadi tradisi Perayaan penanda bahwa sepinya malam telah berakhir Sang adik laki-laki sering kali mengeluh Mengapa berulang nyalakan kembang api Kilahnya, setiap suara kejutnya sama Warna dan segala kemeriahan telah terangkum tuntas dalam pikirannya Wanita itu hanya tersenyum dan menarik tangan kecil itu tuk pergi ke pelataran Se...

Cerpen : Bintang Jatuh

Gambar
 Di suatu Desa terpencil, hiduplah anak perempuan bersama dengan Ibunya. Mereka hanya hidup berdua di desa itu. Sebelumnya Desa tersebut adalah Desa dengan banyak penduduk yang hidup sederhana dan bahagia. Namun, di tengah musim hujan yang sangat panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, banyak para penduduk yang memutuskan untuk bertransmigrasi ke daerah lain. Banyak orang beranggapan bahwa musim hujan kali ini tidak berujung dan menyebabkan malapetaka untuk warga Desa seperti, hewan ternak banyak yang mati, tumbuhan gagal panen, serta munculnya wabah-wabah penyakit yang hingga menyebabkan kematian.  Sang Ibu memilih tetap tinggal dikarenakan ketakutannya jika warga Desa akan bertemu dengan sang Putri. Bukan tanpa sebab ketakutan tersebut, beberapa kali sang Putri bertemu dengan warga Desa dan mendapatkan makian dan respon kurang baik lainnya karena wajah sang Putri yang dianggap buruk rupa dan menyeramkan. Bagi sang Ibu, putrinya sama cantiknya dengan anak perempua...

Potongan Film

Gambar
Malam ini lalu lintas begitu padat Ku temui gerumunan pada banyak titik Baik yang bersembunyi di balik jas hujan maupun di bawah atap besi berjalan Semua pendatang hanya pergi berlalu Sepertinya banyak orang mengarah pada jalan pulang Entah untuk apa atau siapa yang menunggu Hingga tampak berang dengan beradu suara Dan lupa akan basahnya tubuh Memandangi setiap kali lampu berwarna ceri tengah mendapat giliran Ronanya membias karena air hujan yang mengepunginya Semua patuh menunggu dihadapannya Meski dengan riuh cerca di kepala Aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan? Saat lampu tak bergerak Juga dengan jari mengeriput Hingga wajah yang terbasuh berulang Dengan helaan nafas ku coba nikmati sekitar Tepat di arah tenggaraku, saling berpeluk dan cerita hujan di lain hari dengan suka cita Sedikit bergeser ke arah timur, tengah mengamankan sekotak makanan dibalik bungkus plastik yang naasnya tak halau dingin Juga dari arah baratku, sepaket keluarga cemara dengan wanita yang mengusahakan diri...

Hari Akhir

Gambar
Siang berganti malam Begitu juga terangnya, dan-lalu-gelap Begitu juga panasnya telah tertiup Dan begitu juga ramainya,  tertelan hingga habis menyisakan senyap Ku lihat semua berjalan begitu cepat Dengan telapak kaki di sembarang arah Baik pada tanah yang basah dan ubin yang dingin Baik dengan jejak yang terbentuk hingga yang berakhir,  dimana lainnya itu? Tanyaku, mengapa berganti dan tak biarkan saja semua sama? Seperti pada lemari gelas kaca milik sang petuah dihari doa baik Gelas yang terawat dan berakar Meski lupa akan tujuan terbuat Tanyaku, mengapa berganti dan tak paksakan saja semua sama? Tak perlu sibuk merancang nanti Cukup peluk hari ini untuk berhenti Hingga sedikit mengeratkan peluk yang tak peluk sampai bisa tak bercerai Tanyaku, mengapa berganti dan ikhlaskan semua? Namun hanya hening kudapat Dan bayang hitammu yang mulai merabun Ku rasa sadarku tak dapati jawab dan termakan tanya Barangkali ada yang ingin bicara dan mulai jelaskan Bukan dengan hujan yang mula...

Cerpen : Ada Luka di Balik Kata Paham

Gambar
Sore itu segerombolan remaja tengah membelah kota. Dua diantaranya sedang berbincang dengan raut yang bahagia. Sesekali diselingi suara tertawa. Mereka tengah menceritakan mengenai bagaimana lucunya dunia ini. Bahasan yang umum dibincangkan oleh para karyawan kota kota besar. "Hai Dimas, kau tahu tidak siang tadi rasanya sungguh berat?" tanya Nina dari posisinya yang kini tepat dibelakang Dimas yang mulai merubah raut wajah tanpa diketahui oleh gadis tersebut.  "Ada apa?"  "Siang tadi aku di tegur karena pemasukan perusahaan mulai turun bulan ini. Marketing Credit lagi marketing Credit lagi, sepanjang rapat tadi itu saja yang dibahas. Padahal tim Corporate juga lelang ada disana. Curang bukan? Sepertinya GM kita memang sensi sama timku." keluh Nina "Bukankah justru bagus? Secara tidak langsung, GM ingin mengoptimalkan divisi Credit karena beliau tahu potensi yang kalian punya sangatlah besar."  Nina yang mendengar jawaban tersebut mulai membuat e...

Sekedar Cerpen : Sepucuk Surat

Gambar
Ada sebuah lelucon hari ini. Diera ini masih ada seseorang mengirimkan surat setiap 1 tahun sekali. Pak tua yang sudah bekerja selama lima tahun inipun terheran-heran. Aktivitas wanita muda ini setiap tahunnya datang untuk mengirimkan barang yang sama persis. Surat berwarna putih polos yang sederhana tapi tak diberikan alamat tujuan. Wanita tersebut memasukan surat tersebut kedalam kotak surat didepan kantor pos pada pagi hari. Ini tahun ke lima pak tua ini menjadi saksi kegiatan rutin wanita tersebut. Wanita tersebutpun hanya sekedar memasukan surat tersebut lalu pergi. Setiap kali pak tua ingin  menghampirinya, langkah wanita muda itu lebih cepat meninggalkan tempat tersebut. Surat beramplop putih hanya menjadi tumpukan paket yang tidak perna dikirimkan. Yang benar saja, bagaimana surat tersebut ingin dikirimkan jika hanya tercantum penerimanya tanpa alamat,  kontak yang dapat dihubungi ataupun lainnya? Dan, sepertinya itupun bukan nama dari penerima yang dituju. Hanya ter...

Cerpen : Halaman Bidadari dan Semesta

Gambar
Terdapat sebuah kisah di dalam kisah lainnya. Tentang seorang wanita dewasa yang mengisahkan kehidupan bidadari. Jari lentiknya sangat handal bergerak bebas. Kaki kecilnya lincah melompat dari titik satu ke titik satu lainnya. Bahkan tak dapat kau temui rasa ragu maupun takut di setiap geraknya. Begitupula lidahnya,  sulit kau temukan salah tutur, handal sanjungan untuknya. Dan bagi si penikmat hanya bisa menghadiahkan tepukkan tangan hingga menggema. Seusai pentas, Wanita tersebut duduk.  Meminum air mineral di sudut ruang.  Bibir manisnya terus tersenyum.  Bermandikan keringat, tak sedikitpun tampakan keluh di wajah.  Seorang pria datang menyamakan tingginya hingga mampu saling tatap. "Kau temukan rumah." katanya yang mampu menciptakan kerut di dahi lawan bicaranya. "Kau telah menemukannya,  rumah yang kau impikan" lanjut pria tersebut dengan senyum yang semakin mengembang. "Kau ini, apa yang kau bicarakan? Aku memang sudah memiliki rumah. Kau tah...