Perayaan Kembang Api; Sebuah Kenangan dan Kehilangan



Kini langit menghitam
Mulailah lampu-lampu dihidupkan satu persatu
Memperlihatkan sepinya jalan di sana
Jalan yang berakhir pada sebuah rumah

Dari kejauhan tampak seseorang di bawah penerangan
langkah memangkas jarak
Melambai-lambai tuk beri tanda
Telah sampailah sang pedamba

Wajah bulat itu memerah
Terdapat binar-binar yang terpancar
Juga rekah senyumnya
Berteriak tuk sampaikan suka cita pada dunia

Aroma bunga semakin dinikmati habis olehnya
Tatkala pelukan terbuka dan siap menerima
Dan mulai mengurai segala rindu
Entah sebagai penutup atau pembuka pada bagian lain

Hadiah kali ini adalah kembang api
Perayaan kesekian kalinya pada setiap pulang
Perayaan yang menjadi tradisi
Perayaan penanda bahwa sepinya malam telah berakhir

Sang adik laki-laki sering kali mengeluh
Mengapa berulang nyalakan kembang api
Kilahnya, setiap suara kejutnya sama
Warna dan segala kemeriahan telah terangkum tuntas dalam pikirannya

Wanita itu hanya tersenyum dan menarik tangan kecil itu tuk pergi ke pelataran
Segalanya telah siap 
Tiga, dua, satu, semua dimulai
Semua dimulai?

Langit ini tak lagi hening
Juga tak lagi kosong
Kejut itu dan cahaya itu mengisinya
Kemeriahan pada langit dan keceriaan pada bumi saling mengisi

Sang adik nampak bahagia
Tak habisnya menunjuk berbagai arah
Sang kaka merasa begitu hangat
Tak bisa jauhkan pandangan dari jantung hidupnya

Hingga pada perayaan terakhir
Kembang api tersisa satu
Digenggam pada dua pasangan tangan yang saling berkait
Mari nikmati perayaan terakhir; mari tertawa hingga akhir

Malam ini langit biarkan dirinya terkejut lagi
Terakhir, katanya membuat malam sedikit melunak
Beri waktu tuk tertahan lebih lama
Dan segala sekitarnya tetap berjalan meski mulai merasa sesak

Perayaan telah berakhir
Pagi datangi lelaki bertubuh kecil tuk kembali 
Dengan sinar yang sembunyi di balik kain
Serta suara alam yang mencoba membantu

Adik lelaki kecil dan kasur besarnya
Terdapat bagian besar tak tersentuh
Pada bagian lainnya telah habis basah
Air mata terlalu deras tuk dapat lagi tertahan

Adik lelaki kecil dengan tubuhnya yang bergetar
Tangan berjari bak pisang lampung itu terus menghalau air bah
Berusaha tuk menyudahi
Berakhir sia-sia, suara memanggil malaikatnya semakin mengiris hati

Adik lelaki kecil yang teringat akan perayaan kembang api
Perayaan yang Ia benci namun juga Ia rindukan
Mengapa semua itu berisikan kepalsuan belaka?
Pada cahaya yang begitu germerlap
Juga suara yang bangkitkan detak jantung
Dan tawa yang lahir begitu saja

Mengapa kembang api tak abadi?
Begitu puaskah Ia lenyap disaat tidak ada lagi yang menyalakannya?
Bahkan membiarkan langit kembali sepi
Hening, lalu tak berjejak

Sebegitu sulitkah ciptakan kebahagiaan itu?
Hingga membakar diri untuk membuat dunia menari lepas
Beri ruang yang luas tuk sang adik lelaki menutup mata 
Dan biarkan Ia tuk besar kepala merasakan tak ada kiamat tuknya dan sang kaka

Kini siapa yang akan bertanggung jawab
Sang adik lelaki terlalu larut dalam bayang fana
Bahkan genggaman itu terasa nyata
Peluk, aroma hingga senyum, 
bagian mana yang tak nyata?

Sang adik lelaki menantang langit
Menyerukan serapah pada langit yang lenyapkan sang kaka
Bersama dengan hilangnya germelap malam itu
Makian tak henti tuk kembalikan akal sehatnya

Pada akhirnya, ini hanya tentang perayaan kembang api 
Sang pencipta perayaan telah terkapar, habis tersayat
Mengorbankan tubuh sebelum mengatakan hal keji
Ku suguhkan harsa padamu sebelum diriku hampiri-Nya, tanpa undang sang prajurit





Referensi bacaan lainnya :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku mencintaimu

Hadiah

Ghetini