Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Cerpen : Waktu Memotong Kue

Bagaimana cara menikmati kue tanpa mengubah bentuknya?  Pertanyaan itu terkesan bodoh namun sejujurnya sering kali terlintas di pikiranku selama ini. Aku bukanlah wanita yang menyukai hal-hal berat untuk dipikirkan. Seperti halnya berpikir tentang menginginkan suatu hal yang sangat mewah untuk aku gunakan atau mungkin cara menabung hingga bisa mendapatkan gelar milyader. Tidak, itu tentu bukan aku. Hanya saja, kali ini mungkin berbeda, dimana aku sedang tidak menjadi diriku. Perasaan ini cukup lama mengepungi hati dan pikiranku. Kehidupan sederhanaku perlahan mulai tergerus dengan kehadiran perasaan 'orang bodoh' ini.   Hari inipun sama. Entah tarikan nafas ke berapa hingga Ani, rekan kerja di sampingku mulai merasa kejanggalan. Meskipun rasa terusik Ani sangat ingin Ia gambarkan melalui pertanyaan, namun Ani sepertinya cukup menghargaiku dengan kondisi meja penuh dengan berbagai dokumen berharga yang akan segera berakhir menjadi benda tak bernilai di mesin penghancur ker...

Sepatah kata

  Maaf

Mimpi

 Kita berdansa di atas embun Rona fajar yang khas  menjadi dekorasi pesta Tak lupa para burung bernyanyi la la la na na na ya ya ya Lebih indah terdengar  dibandingkan suara ketukkan Ibu  di balik pintu -bangun-

Penulis

 Aku sang penulis puisi Kamu sang tokoh  yang hidup dalam mimpi Aku yang hanya bisa menulis Namun berulang revisi, tak cakap tuk sekedar jujur pada diri sendiri juga pembaca tentang tak mampu lanjutkan menulis tanpa tidur

Wanita (ini)

Wanita ciptaan Tuhan  yang bercela banyak Pada waktu menciptakannya, Tuhan tengah lengah Barang kali di malam gulita Sehingga tak tampak kurangnya Bodoh adalah ciri utamanya Mudah kan beri seluruh miliknya saat ada yang berkata bahwa dirinya berharga Nafasnya saja tak bernilai Sebab sesak sering terjadi setiap kali Ia memohon tuk sesuatu yang belum terwujud Senyumnya terlalu murah Sekedar membaca pesan lama, Bangun dari mimpi hangat, Atau bahkan ... Bahkan begitu murahnya Ia hanya bisa menulis angan yang tak pernah diaminkan dengan senyuman betapa bodohnya wanita ini

Rakus

 Pertemuan kami di kotak kecil Aku diberi waktu olehnya untuk menatap Katanya, wajahku terlalu gusar Perlu sedikit amunisi, setidaknya untuk mengisi pipiku  yang tampak cekung hingga bahuku yang mulai melorot Sialnya, kau benar Tapi kaupun lupa Aku rakus Bagaimana jika ku bawa pulang saja kau?

Berita Batal Cetak

Manusia di dunia ini begitu banyak Bukan hanya ada aku Lalu kamu Serta aku dan kamu Terlalu banyak Namun hanya kabar berita  "kita bersama"  yang batal cetak