Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Cerita Orang Kaya Baru: Dari Rantai ke Kebebasan

Gambar
Penghujung tanggal hitam akhirnya tiba Terdengar sorak dari berbagai balik meja Beberapa di antaranya mulai berangan Sisanya hanya bisa menghela nafas Badanmu tegap kali ini Berjalan dengan yakin tanpa rantai dikaki Tak ada beban di pundak Hanya ada beban didompet yang kenyang akan kekayaan Malam ini tak lagi ada aroma kemiskinan Yang tercium hanya kepulan dari dapur restoran Aahh ... jangan lupa sapaan bak raja yang disambut oleh para dayang Menyiapkan diri tuk meraih bintang lima darimu Kedai ramen saat itu apakah masih sama? Ornamen kayu dan menu andalannya Bukan, bukan andalan mereka Hanya andalan sepasang pencerita pecinta Saat itu Apakah segalanya masih sama? Jika tak ada ramen, barangkali aroma popcorn Banyak tayangan yang dapat mengundang Lalu kan ku sertakan kopi pandan  Sembari menikmati lagu jazz di depan pintu Dan saling menebak judul lagu Sebelum masuki ruangan gelap dan bersandar kasih Malam belum larut Ceritamupun masihlah sebanyak isi rekeningmu Mari berjalan sediki...

Perayaan Kembang Api; Sebuah Kenangan dan Kehilangan

Gambar
Kini langit menghitam Mulailah lampu-lampu dihidupkan satu persatu Memperlihatkan sepinya jalan di sana Jalan yang berakhir pada sebuah rumah Dari kejauhan tampak seseorang di bawah penerangan langkah memangkas jarak Melambai-lambai tuk beri tanda Telah sampailah sang pedamba Wajah bulat itu memerah Terdapat binar-binar yang terpancar Juga rekah senyumnya Berteriak tuk sampaikan suka cita pada dunia Aroma bunga semakin dinikmati habis olehnya Tatkala pelukan terbuka dan siap menerima Dan mulai mengurai segala rindu Entah sebagai penutup atau pembuka pada bagian lain Hadiah kali ini adalah kembang api Perayaan kesekian kalinya pada setiap pulang Perayaan yang menjadi tradisi Perayaan penanda bahwa sepinya malam telah berakhir Sang adik laki-laki sering kali mengeluh Mengapa berulang nyalakan kembang api Kilahnya, setiap suara kejutnya sama Warna dan segala kemeriahan telah terangkum tuntas dalam pikirannya Wanita itu hanya tersenyum dan menarik tangan kecil itu tuk pergi ke pelataran Se...

Cerpen : Bintang Jatuh

Gambar
 Di suatu Desa terpencil, hiduplah anak perempuan bersama dengan Ibunya. Mereka hanya hidup berdua di desa itu. Sebelumnya Desa tersebut adalah Desa dengan banyak penduduk yang hidup sederhana dan bahagia. Namun, di tengah musim hujan yang sangat panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, banyak para penduduk yang memutuskan untuk bertransmigrasi ke daerah lain. Banyak orang beranggapan bahwa musim hujan kali ini tidak berujung dan menyebabkan malapetaka untuk warga Desa seperti, hewan ternak banyak yang mati, tumbuhan gagal panen, serta munculnya wabah-wabah penyakit yang hingga menyebabkan kematian.  Sang Ibu memilih tetap tinggal dikarenakan ketakutannya jika warga Desa akan bertemu dengan sang Putri. Bukan tanpa sebab ketakutan tersebut, beberapa kali sang Putri bertemu dengan warga Desa dan mendapatkan makian dan respon kurang baik lainnya karena wajah sang Putri yang dianggap buruk rupa dan menyeramkan. Bagi sang Ibu, putrinya sama cantiknya dengan anak perempua...

Potongan Film

Gambar
Malam ini lalu lintas begitu padat Ku temui gerumunan pada banyak titik Baik yang bersembunyi di balik jas hujan maupun di bawah atap besi berjalan Semua pendatang hanya pergi berlalu Sepertinya banyak orang mengarah pada jalan pulang Entah untuk apa atau siapa yang menunggu Hingga tampak berang dengan beradu suara Dan lupa akan basahnya tubuh Memandangi setiap kali lampu berwarna ceri tengah mendapat giliran Ronanya membias karena air hujan yang mengepunginya Semua patuh menunggu dihadapannya Meski dengan riuh cerca di kepala Aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan? Saat lampu tak bergerak Juga dengan jari mengeriput Hingga wajah yang terbasuh berulang Dengan helaan nafas ku coba nikmati sekitar Tepat di arah tenggaraku, saling berpeluk dan cerita hujan di lain hari dengan suka cita Sedikit bergeser ke arah timur, tengah mengamankan sekotak makanan dibalik bungkus plastik yang naasnya tak halau dingin Juga dari arah baratku, sepaket keluarga cemara dengan wanita yang mengusahakan diri...

Dimana Bintang?

Gambar
Langit dimalam hari memiliki magnet tersendiri Terutama pada saat bertabur perhiasan yang ramai Mari berangan dan nikmati Langit tampak seperti apa kali ini? Lihatlah, terdapat bulan yang tengah menyipit Terlihat tipis, samar bak wanita penjaga toko obat Dan mulailah segerombolan anak bernyanyi Meminta bulan tuk temani Larut gelap dan dingin meninggalkan sunyi Aku masih terduduk, memeluk kaki Menenggah tuk nikmati Menenggah tuk nikmati, sesaat Dari bawah, aku dapat melihat indahmu Entah kapan cahaya tersebut tersulam dengan begitu apik Seperti berpencar namun tetap dalam satu kanvas Seperti itulah seribu bintang yang ku sukai Perlukah ku ikut bernyanyi tuk dapat terbang dan menari di antara cahayamu? Namun aku hanya ingin menikmati sendiri dan tidak seperti pemuja bulan Hanya pada bagian ini, aku ingin sendiri Hanya pada bagian ini, aku memohon tuk halau lain Jika boleh, itu pintaku Setelah seribu malam ku lewati  dengan hanya memandang Lalu menimbun, lagi dan lagi Pertanyaan berla...

Hari Pemakaman

Gambar
Prasangka menyelimuti setiap hati Tak ada putih-hitam, bersih ataupun kotor Prasangkakan hampiri tuk mengisi pikiran kosong Dan lalu membangkai bersama sang inai Mereka sebut tabah yang dapat sembuhkan Naasnya mereka tak tahu,  benarkah masih ada yang hidup di sini? Apakah bisa hidupkan jasad yang telah mati? Sebelum gagak hitam kerumuni tuk rayakan duka Tibalah hari pemakaman, ramai Ada yang datang bersama tangis, teriakkan tuk mengutuk Tuhan hingga beberapa jiwa tumbang Sisa lainnya hanya bisa berbisik belas kasih Dengan tangan menggenggam, pinta tuk jadikan ini sekedar mimpi Esoknya kembali pada semula Kekosongan ruang ini begitu dingin Melanjutkan yang tertunda, menggertak kepada Tuhan tuk kembalikannya Hingga balasan akhirnya datang jua ... " Dirinya tak pergi, tapi kamu yang tak lagi didunianya "