Postingan

Menampilkan postingan dengan label Refleksi

Penggoda Tuhan di Tepi Jalan

Gambar
Kelambu yang telah abu Menutupi segala yang berada di dalam kungkungannya Bekas tapak yang mulai terisi genangan Sisanya hilang tersisir Barangkali di antara bercak tanah itu ada kehidupan yang tampak Meski banyak yang hampir tersentuh Namun tak mengurangi kesucian putihnya Dan begitupun cerahnya yang memanggil tuk sapa sembarang Segerombolan itu tetap bertahan Padahal, tak ada yang memasukkannya dalam vas berukir naga, atau awan, atau entah apapun itu Berdiri anggun di ruang bertemakan kekayaan Ia, di antara lainnya hanya menumpang hidup di tanah Tuhan Penggoda Tuhan untuk beri hujan Penggoda Tuhan untuk beri matahari Tapi siapa yang akan menyangka bahwa Ia adalah sang penggoda?, Bahkan Tuhanpun ragu akan itu Benar adanya atas kecantikkannya Terlebih saat tengah menari atas ajakan angin Saling bersentuh, berayun kanan-kiri Berdansa dengan banyak penghuni alam yang lain, memikul iri langit yang begitu jauh Percayalah, kamu begitu mengagumkannya Cela yang mungkin ada, hanya dapat kuseny...

Hi, Desember Telah Tiba : Harapan dan Kehilangan Di Penghujung Tahun

Gambar
Akhirnya sebuah akhir datang Mengapa menunggu akhir? Sebab ada awal yang dijanjikan diakhir Lalu apa itu akhir? Lalu apa itu awal? Seperti kata para peramal Desember adalah penentu perubahan Sial, kali ini apakah perlu percaya dengan ramalan? Tidak Tapi sepertinya putus asa tahun ini Biarkan saja ini  Berputus asa? Tidak Hanya biarkan saja ini Lalu semua mulai berputar Dua puluh enam tahun yang tidak terjadi Rasa-rasa baru satu tahun hidup Dan lalu berakhir di Desember Biarkan saja ini Berbagai kemungkinan sudah terjadi disebelas bulan ini Seperti apa? Seperti sebelas bulan yang sudah terjadi Bagaimana itu? Lebih memelas dibandingkan dua puluh lima tahun yang sudah terjadi Terlalu rumpang Dan memang disiapkan tak lengkap Bagaimana cara melengkapinya? Dengan cara membuat Desember sebagai awal Biarkan diri ini menarik kembali apa yang sudah lama hilang Bersembunyikah? Tidak Ia pilih hilang Mengapa tak dicari? Karena Ia yang memilih hilang Hingga peneliti telah lelah dan duduk sebagai...

Cerpen : Keretaku Sampai Tujuan

Gambar
  Suatu hari aku sedang menunggu kereta untuk pergi ke suatu tujuan yang sebenarnya juga tidak tahu di mana itu. Yang aku tahu, aku hanya ingin melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta. Pergi ke stasiun, menunggu kereta yang datang dan menaikinya. Duduk sembari menikmati berbagai ekspresi sekitar. Ahh tentu saja sesekali akan ku tengok jendela besar di sebrangku. Pemandangan langit sebiru ini mana mungkin boleh aku lewatkan bukan? Dengan perasaan yang cukup senang, aku menyambut kereta yang dikabarkan akan memasuki stasiun yang kini aku datangi. Bisa ku lihat, sekitar ku juga mulai mengikuti apa yang aku lakukan, mendekati garis kuning. Membentuk barisan seakan menyambut parade disebuah perayaan. Teriakan kereta semakin terdengar nyaring yang diikuti oleh suara rel beradu dengan besi bundar itu. Perlahan kereta mulai berhenti tepat di hadapan kami.  Rasa senang itu semakin menyeruak. Dengan sangat sabar, aku menunggu pintu dari masing masing gerbong tersebut terbuka - se...

Cerpen : Halaman Bidadari dan Semesta

Gambar
Terdapat sebuah kisah di dalam kisah lainnya. Tentang seorang wanita dewasa yang mengisahkan kehidupan bidadari. Jari lentiknya sangat handal bergerak bebas. Kaki kecilnya lincah melompat dari titik satu ke titik satu lainnya. Bahkan tak dapat kau temui rasa ragu maupun takut di setiap geraknya. Begitupula lidahnya,  sulit kau temukan salah tutur, handal sanjungan untuknya. Dan bagi si penikmat hanya bisa menghadiahkan tepukkan tangan hingga menggema. Seusai pentas, Wanita tersebut duduk.  Meminum air mineral di sudut ruang.  Bibir manisnya terus tersenyum.  Bermandikan keringat, tak sedikitpun tampakan keluh di wajah.  Seorang pria datang menyamakan tingginya hingga mampu saling tatap. "Kau temukan rumah." katanya yang mampu menciptakan kerut di dahi lawan bicaranya. "Kau telah menemukannya,  rumah yang kau impikan" lanjut pria tersebut dengan senyum yang semakin mengembang. "Kau ini, apa yang kau bicarakan? Aku memang sudah memiliki rumah. Kau tah...