Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Smara

Bagaimana cara mengatakan Sesuatu yang mudah Berulang terucap Tapi tidak kau pahami? Aku rindu Tapi aku tahu diri Cukup aku yang tertabrak sana dan sini Ulah rasa hausku

Rumah Tua

Rumah tua beratap orange itu telah dimiliki Oleh mereka yang dulu menetap Oleh mereka yang selalu memasak kebahagiaan Oleh mereka yang membakar hangat kala hujan berbagai air dan angin Kaki ku melangkah  Pada lantai berdecit, "perih" Ku usap dinding yang berdebu, nan dingin Mengetuk berharap kan ada yang sambut Gelap hampiri, perlahan Dan aku masih berada di pelataran Tepat pukul 7 ini dan lalu Masih pada di tempat yang sama Dengan mata berkarat Dedaunan melompat dan menari, bebas Terayun lalu jatuh di rambutku Mengisi bagian yang tak lagi terjaga Dengan telapak yang penuhi Tak ada ... Jangan salahkan atas fahamku kini Yang menjelma menjadi berbagai "aku" Tuk hentikan gonggongan kala pagi hingga petang Dengan tangan yang tak mampu hentikan Hanya telungkup Mohon ampun Tuk dapat duduk pada lantai kayu Lebih lama Menyambut kepergian Tuan Malam ke malam Ku tunggu,  kan selalu begitu Sebab Tuan kan bawa damai Kan selalu begitu Meski akulah sang bara Sering buat Tuan mele...

Gelabah

Kebulan asap ini menenangkan Pekat, barangkali seluruh beban ikut terhembuskan Dengan tatapan kosong sembarang Merongrong tanpa suara Tarikan terakhir Hembusan terakhir Hitam yang kian memangkas Namun gelebah tak kunjung ranggas

Swastamita

Langit sore ini merona Barangkali karena melihat sepasang yang saling berpelukkan Di depanku yang habis terguyur, malu Langit sore ini merona Tak handal tahan tawa Hingga memecah pipinya

Perayaan Sebuah Akhir

Pada awal ini, mari kita buat perayaan Perayaan yang tak butuh mewah Hanya ada aku dan kamu Lalu payung hitam, bertabur mutiara langit Baru genap satu menitmu Kau penjarakanku dengan tanya Mengapa kita di sini? Namun kau hanya beri rambu hijau Hilang, sisakan tapak Aku rasa sudah terlalu jauh  Anganku berlari tak mampu tertahankan Lagi lagi lagi lagi lagi lagi Kau dan seluruh sisamu Menyublim, matikan indraku Sudah bukan lagi pertama  Ketakutanku menyala dengan bara meletup letup, bak jeritan Tolong ... tolong ... tolong Memeras hati tuk keluarkan Darah dan air mata Serta makian Pada sang Ilahi Yang menyuarakan tuk mulai Yang perintahkan tuk meninggalkan Yang membujuk tuk merajuk Dan ... membelai tuk kembali Pada tempat seharusnya Mari kita buat perayaan Dimana sepenggal kata tergantung Bersamaan dengan pensil tumpul Dan kain yang memenggal suara

Lilin kehidupan

Lilin yang berada di lemari kaca akhirnya dikeluarkan Ku simpan di tengah, dengan berbagai manis mengelilingi Tak lupa ku petik pematik, menyala! Ku nyanyikan lagu yang ku ulang sendiri setiap bulan  ini Selamat Menua Lilin Selamat Menua Lilin Selamat Menua Lilin Kehidupan Semoga lekas luruh, habis ... sebab tak nyaman menyalakanmu berulang sendiri

Apakah Mawar Putih Itu Sudah Kau Buang?

Apakah mawar putih itu sudah kau buang? Mawar yang ku temukan sebagai pengganti lidahku yang kelu Warnanya tak menarik Namun, sudahkah kau mendengar mawar putih itu berbisik? Apakah mawar putih yang kau bawa pulang masih nyata dalam ruang lelapmu? Aku tak pandai mencari jam mahal, tapi prihal bunga kan ku usahakan Harap agar dapat temani setiap alur mimpi Juga bangun Saat tengah mekar (seindahmu) juga layu (sesuramku - kini) Apakah mawar putih masih mengharumimu? Seperti aroma laut yang kita nikmati Bersama coklat berpadu dengannya Aroma yang ku bawa pulang di saat kau membawa pulang tawa Masih adakah wewangian itu terkukung di sana? Apakah malam ingatkanmu akan mawar putih? Sebab pada malam itu, bintang-bintang berkata padaku Tuk pinta jagamu Tuk memohon agar bahagiakanmu Tuk doakan agar ku (dapat) menuntunmu Sebab malammu begitu gelap Seribu bintangmu tak bantu langkah Kau terlalu sering terjerembap Sisakan luka yang kau bopong pulang Bulan juga berteriak padaku Tuk haruskanku, pasti...