Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Terima kasih

Gambar
  Harumnya perangaimu menyatu dengan seluruh pakaianku Setia merekah dalam ingatan Kan selalu ada syukur pada tiap akhir kalimat Untuk kamu pemilik pagi dan malamku pun saat ini Terima kasih telah bersedia menjadi paramananda pun hingga kini Referensi bacaan untukmu : Ruang masa lalu Lelaki dalam Belenggu Hi, Desember telah tiba

Lelaki yang Membopong Wanita Berluka Nanah

Gambar
Diantara gaduh siang itu Seorang wanita penuh nanah hampiri Sajikan telapak terbuka dan sapaan penuh kebutaan Tersenyum seolahkan mampu tutupi besaran kotoran dihidupnya Lelaki beraroma kebahagiaan mulai melirik Namun tak balas tangan kotor yang bergantung di hadapannya Hanya ucapkan satu kata yang akan terpati dalam ingatan di tengah debu isi pikiran  sang wanita Waktu yang berjalan mendayu Hantarkan pada kumpulan bunga bermekaran di seluruh bagian Tenggelamkan sepasang manusia yang abaikan semesta Berpegang buah takdir yang dipetik pada sepertiga malam Satu persatu sungai anggur telah dicicipi Aliran yang menambah nikmat Mabuk hingga hilang akal Harap-harap tumbuh indah bak bunga teratai di atasnya Jutaan badai telah berlangsung cukup lama dan menyakiti dua makhluk Tuhan sakit yang menimbulkan demam dan gelisah Mencari dokter terhebat tak hasilkan jawaban Melemahkan pendirian Pendekar yang telah berjuang dengan kudanya memilih pergi dengan kaki pincangnya Wanita berbalut nanah ki...

Lelaki di dalam belenggu

Gambar
Masuki ruang ini kembali? Hanya dalam mimpi,  sekedar mimpi  bukan berarti di dunia nyata Atau bahkan memang tidak terbangun Memilih tidak terbangun Apa yang kau cari? Kekosongan ini membuatku tidak penuh Seperti telah menuang kopi pada cangkir Tak henti, namun tak kunjung terisi Benarkah kopi yang kau tuang? Cerutu pengganti dupa Biarkannya terbakar perlahan, sangat perlahan Kan ku tunggu hingga habis terbakar Benarkah sekedar menunggu? Tak pantas ajarkan rindu pada seorang lelaki Lelaki tumbuh karena rasa sakit Rindu hanyalah belenggu bagi lelaki lemah yang merajut ulang ingatan lama lelaki hanya perlu tamparan tendangan makian Agar Ia hidup Lantas, sedang apa kau di sini? Lelaki tak perlu menjawab Menjelaskan membuat dirinya bodoh Bodoh bukanlah aku Aku adalah lelaki yang tak berputus asa hingga mengharuskan bicara Aku akan bersandar saja Tak apa jika sedikit mengenang Menapaki jejak lama pada tiap tapak yang sama hanya akan membuatku terperangkap Tak ada perangkap, kita ad...

Ruang Masa Lalu: Cerutu dan Aroma yang Tak Pernah Pergi

Gambar
Aroma vanila masih tertinggal Bertengger di cupid hidungku Tatkala ku memasuki ruang masa lalu Berpintu kayu yang mulai tertutup jaring-jaring  Ruang yang seharusnya tak disentuh namun ternyata kembali terbuka Tak pandai-pandainya aku menyembunyikan kunci ini Jangan suruh aku membuangnya Alih-alih melenyapkan, justru aku mendatangi pemilik kunci Sudah ribuan malam ku tak menutup jendela pada ruang ini Barangkali udara malam itu Baik saat hujan Pun kemaraunya Lalu pasukan pengepak berbagai ukuran Pun para pengerat  Cukup tuk merunyamkan ruang Malangnya yang ditemukan adalah kedamaian Mereka senantiasa menetap  Bingkai itu masih berisikan dua orang bahagia bahagia yang bahagia bahagia yang semakin membias Kini mataku telah lupa bagaimana teduh matanya Aromanya yang tengah berpadu padan dengan lendir di tubuhnya tak lagi tercium Mulut yang tak lagi mengecap manis miliknya Telinga menuli setelah tak lagi ada yang memanggil namaku Dan kulitku yang mengering karena tak lagi ber...

Penggoda Tuhan di Tepi Jalan

Gambar
Kelambu yang telah abu Menutupi segala yang berada di dalam kungkungannya Bekas tapak yang mulai terisi genangan Sisanya hilang tersisir Barangkali di antara bercak tanah itu ada kehidupan yang tampak Meski banyak yang hampir tersentuh Namun tak mengurangi kesucian putihnya Dan begitupun cerahnya yang memanggil tuk sapa sembarang Segerombolan itu tetap bertahan Padahal, tak ada yang memasukkannya dalam vas berukir naga, atau awan, atau entah apapun itu Berdiri anggun di ruang bertemakan kekayaan Ia, di antara lainnya hanya menumpang hidup di tanah Tuhan Penggoda Tuhan untuk beri hujan Penggoda Tuhan untuk beri matahari Tapi siapa yang akan menyangka bahwa Ia adalah sang penggoda?, Bahkan Tuhanpun ragu akan itu Benar adanya atas kecantikkannya Terlebih saat tengah menari atas ajakan angin Saling bersentuh, berayun kanan-kiri Berdansa dengan banyak penghuni alam yang lain, memikul iri langit yang begitu jauh Percayalah, kamu begitu mengagumkannya Cela yang mungkin ada, hanya dapat kuseny...

Hi, Desember Telah Tiba : Harapan dan Kehilangan Di Penghujung Tahun

Gambar
Akhirnya sebuah akhir datang Mengapa menunggu akhir? Sebab ada awal yang dijanjikan diakhir Lalu apa itu akhir? Lalu apa itu awal? Seperti kata para peramal Desember adalah penentu perubahan Sial, kali ini apakah perlu percaya dengan ramalan? Tidak Tapi sepertinya putus asa tahun ini Biarkan saja ini  Berputus asa? Tidak Hanya biarkan saja ini Lalu semua mulai berputar Dua puluh enam tahun yang tidak terjadi Rasa-rasa baru satu tahun hidup Dan lalu berakhir di Desember Biarkan saja ini Berbagai kemungkinan sudah terjadi disebelas bulan ini Seperti apa? Seperti sebelas bulan yang sudah terjadi Bagaimana itu? Lebih memelas dibandingkan dua puluh lima tahun yang sudah terjadi Terlalu rumpang Dan memang disiapkan tak lengkap Bagaimana cara melengkapinya? Dengan cara membuat Desember sebagai awal Biarkan diri ini menarik kembali apa yang sudah lama hilang Bersembunyikah? Tidak Ia pilih hilang Mengapa tak dicari? Karena Ia yang memilih hilang Hingga peneliti telah lelah dan duduk sebagai...

Cerita Orang Kaya Baru: Dari Rantai ke Kebebasan

Gambar
Penghujung tanggal hitam akhirnya tiba Terdengar sorak dari berbagai balik meja Beberapa di antaranya mulai berangan Sisanya hanya bisa menghela nafas Badanmu tegap kali ini Berjalan dengan yakin tanpa rantai dikaki Tak ada beban di pundak Hanya ada beban didompet yang kenyang akan kekayaan Malam ini tak lagi ada aroma kemiskinan Yang tercium hanya kepulan dari dapur restoran Aahh ... jangan lupa sapaan bak raja yang disambut oleh para dayang Menyiapkan diri tuk meraih bintang lima darimu Kedai ramen saat itu apakah masih sama? Ornamen kayu dan menu andalannya Bukan, bukan andalan mereka Hanya andalan sepasang pencerita pecinta Saat itu Apakah segalanya masih sama? Jika tak ada ramen, barangkali aroma popcorn Banyak tayangan yang dapat mengundang Lalu kan ku sertakan kopi pandan  Sembari menikmati lagu jazz di depan pintu Dan saling menebak judul lagu Sebelum masuki ruangan gelap dan bersandar kasih Malam belum larut Ceritamupun masihlah sebanyak isi rekeningmu Mari berjalan sediki...

Perayaan Kembang Api; Sebuah Kenangan dan Kehilangan

Gambar
Kini langit menghitam Mulailah lampu-lampu dihidupkan satu persatu Memperlihatkan sepinya jalan di sana Jalan yang berakhir pada sebuah rumah Dari kejauhan tampak seseorang di bawah penerangan langkah memangkas jarak Melambai-lambai tuk beri tanda Telah sampailah sang pedamba Wajah bulat itu memerah Terdapat binar-binar yang terpancar Juga rekah senyumnya Berteriak tuk sampaikan suka cita pada dunia Aroma bunga semakin dinikmati habis olehnya Tatkala pelukan terbuka dan siap menerima Dan mulai mengurai segala rindu Entah sebagai penutup atau pembuka pada bagian lain Hadiah kali ini adalah kembang api Perayaan kesekian kalinya pada setiap pulang Perayaan yang menjadi tradisi Perayaan penanda bahwa sepinya malam telah berakhir Sang adik laki-laki sering kali mengeluh Mengapa berulang nyalakan kembang api Kilahnya, setiap suara kejutnya sama Warna dan segala kemeriahan telah terangkum tuntas dalam pikirannya Wanita itu hanya tersenyum dan menarik tangan kecil itu tuk pergi ke pelataran Se...

Cerpen : Bintang Jatuh

Gambar
 Di suatu Desa terpencil, hiduplah anak perempuan bersama dengan Ibunya. Mereka hanya hidup berdua di desa itu. Sebelumnya Desa tersebut adalah Desa dengan banyak penduduk yang hidup sederhana dan bahagia. Namun, di tengah musim hujan yang sangat panjang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, banyak para penduduk yang memutuskan untuk bertransmigrasi ke daerah lain. Banyak orang beranggapan bahwa musim hujan kali ini tidak berujung dan menyebabkan malapetaka untuk warga Desa seperti, hewan ternak banyak yang mati, tumbuhan gagal panen, serta munculnya wabah-wabah penyakit yang hingga menyebabkan kematian.  Sang Ibu memilih tetap tinggal dikarenakan ketakutannya jika warga Desa akan bertemu dengan sang Putri. Bukan tanpa sebab ketakutan tersebut, beberapa kali sang Putri bertemu dengan warga Desa dan mendapatkan makian dan respon kurang baik lainnya karena wajah sang Putri yang dianggap buruk rupa dan menyeramkan. Bagi sang Ibu, putrinya sama cantiknya dengan anak perempua...

Potongan Film

Gambar
Malam ini lalu lintas begitu padat Ku temui gerumunan pada banyak titik Baik yang bersembunyi di balik jas hujan maupun di bawah atap besi berjalan Semua pendatang hanya pergi berlalu Sepertinya banyak orang mengarah pada jalan pulang Entah untuk apa atau siapa yang menunggu Hingga tampak berang dengan beradu suara Dan lupa akan basahnya tubuh Memandangi setiap kali lampu berwarna ceri tengah mendapat giliran Ronanya membias karena air hujan yang mengepunginya Semua patuh menunggu dihadapannya Meski dengan riuh cerca di kepala Aku berpikir, apa yang bisa aku lakukan? Saat lampu tak bergerak Juga dengan jari mengeriput Hingga wajah yang terbasuh berulang Dengan helaan nafas ku coba nikmati sekitar Tepat di arah tenggaraku, saling berpeluk dan cerita hujan di lain hari dengan suka cita Sedikit bergeser ke arah timur, tengah mengamankan sekotak makanan dibalik bungkus plastik yang naasnya tak halau dingin Juga dari arah baratku, sepaket keluarga cemara dengan wanita yang mengusahakan diri...

Dimana Bintang?

Gambar
Langit dimalam hari memiliki magnet tersendiri Terutama pada saat bertabur perhiasan yang ramai Mari berangan dan nikmati Langit tampak seperti apa kali ini? Lihatlah, terdapat bulan yang tengah menyipit Terlihat tipis, samar bak wanita penjaga toko obat Dan mulailah segerombolan anak bernyanyi Meminta bulan tuk temani Larut gelap dan dingin meninggalkan sunyi Aku masih terduduk, memeluk kaki Menenggah tuk nikmati Menenggah tuk nikmati, sesaat Dari bawah, aku dapat melihat indahmu Entah kapan cahaya tersebut tersulam dengan begitu apik Seperti berpencar namun tetap dalam satu kanvas Seperti itulah seribu bintang yang ku sukai Perlukah ku ikut bernyanyi tuk dapat terbang dan menari di antara cahayamu? Namun aku hanya ingin menikmati sendiri dan tidak seperti pemuja bulan Hanya pada bagian ini, aku ingin sendiri Hanya pada bagian ini, aku memohon tuk halau lain Jika boleh, itu pintaku Setelah seribu malam ku lewati  dengan hanya memandang Lalu menimbun, lagi dan lagi Pertanyaan berla...

Hari Pemakaman

Gambar
Prasangka menyelimuti setiap hati Tak ada putih-hitam, bersih ataupun kotor Prasangkakan hampiri tuk mengisi pikiran kosong Dan lalu membangkai bersama sang inai Mereka sebut tabah yang dapat sembuhkan Naasnya mereka tak tahu,  benarkah masih ada yang hidup di sini? Apakah bisa hidupkan jasad yang telah mati? Sebelum gagak hitam kerumuni tuk rayakan duka Tibalah hari pemakaman, ramai Ada yang datang bersama tangis, teriakkan tuk mengutuk Tuhan hingga beberapa jiwa tumbang Sisa lainnya hanya bisa berbisik belas kasih Dengan tangan menggenggam, pinta tuk jadikan ini sekedar mimpi Esoknya kembali pada semula Kekosongan ruang ini begitu dingin Melanjutkan yang tertunda, menggertak kepada Tuhan tuk kembalikannya Hingga balasan akhirnya datang jua ... " Dirinya tak pergi, tapi kamu yang tak lagi didunianya "

Hari Akhir

Gambar
Siang berganti malam Begitu juga terangnya, dan-lalu-gelap Begitu juga panasnya telah tertiup Dan begitu juga ramainya,  tertelan hingga habis menyisakan senyap Ku lihat semua berjalan begitu cepat Dengan telapak kaki di sembarang arah Baik pada tanah yang basah dan ubin yang dingin Baik dengan jejak yang terbentuk hingga yang berakhir,  dimana lainnya itu? Tanyaku, mengapa berganti dan tak biarkan saja semua sama? Seperti pada lemari gelas kaca milik sang petuah dihari doa baik Gelas yang terawat dan berakar Meski lupa akan tujuan terbuat Tanyaku, mengapa berganti dan tak paksakan saja semua sama? Tak perlu sibuk merancang nanti Cukup peluk hari ini untuk berhenti Hingga sedikit mengeratkan peluk yang tak peluk sampai bisa tak bercerai Tanyaku, mengapa berganti dan ikhlaskan semua? Namun hanya hening kudapat Dan bayang hitammu yang mulai merabun Ku rasa sadarku tak dapati jawab dan termakan tanya Barangkali ada yang ingin bicara dan mulai jelaskan Bukan dengan hujan yang mula...

Cerpen : Buku Cerita Mei

Gambar
Namaku Mei aku hanya ada satu diantara sebelas nama lainnya atau mungkin, bukan hanya satu? atau mungkin tidak hanya aku? Mei selalu beranggapan bahwa Mei adalah istimewa. Jika dilihat, Mei merupakan perwujudan dari kesederhanaan. Kamu tahu benar bukan, selain Mei, lainnya memiliki runtutan huruf lebih banyak dan dengan pelafalan yang juga lebih sulit. Terlebih jika kau bertemu Mei, kau tidak perlu memiliki keraguan, apakah Mei saat ini tiga puluh atau dua puluh delapan? Apakah Mei akan hujan atau panas? Dan apakah Mei adalah awal atau akhirmu? Mei sering kali berucap jika Mei ini adalah milikmu, milik kita. Walaupun lucunya Mei ini juga terkadang mengeluarkan sisi keras. Seakan menuntut apakah benar ada yang menetap dan akui Mei atau hanya sekedar ... isi ceritamu yang akan hilang dua puluh empat jam kemudian? Benar, bukan hal yang mudah memang untuk mengakui diri sebagai Mei. Mei dengan imbuhan bendera merah yang sering kali dicantumkan pada bagian akhir namanya membuat mereka cukup ...