Cerpen : Buku Cerita Mei
Namaku Mei
aku hanya ada satu diantara sebelas nama lainnya
atau mungkin, bukan hanya satu?
atau mungkin tidak hanya aku?
Mei selalu beranggapan bahwa Mei adalah istimewa. Jika dilihat, Mei merupakan perwujudan dari kesederhanaan. Kamu tahu benar bukan, selain Mei, lainnya memiliki runtutan huruf lebih banyak dan dengan pelafalan yang juga lebih sulit. Terlebih jika kau bertemu Mei, kau tidak perlu memiliki keraguan, apakah Mei saat ini tiga puluh atau dua puluh delapan? Apakah Mei akan hujan atau panas? Dan apakah Mei adalah awal atau akhirmu?
Mei sering kali berucap jika Mei ini adalah milikmu, milik kita. Walaupun lucunya Mei ini juga terkadang mengeluarkan sisi keras. Seakan menuntut apakah benar ada yang menetap dan akui Mei atau hanya sekedar ... isi ceritamu yang akan hilang dua puluh empat jam kemudian?
Benar, bukan hal yang mudah memang untuk mengakui diri sebagai Mei. Mei dengan imbuhan bendera merah yang sering kali dicantumkan pada bagian akhir namanya membuat mereka cukup menjaga jarak yang sebenarnya tidak perlu. Terlebih denganmu yang familiar dengan Mei lebih dari yang lain. Kamu berkata, bahwa Mei ini benar seperti yang mereka pikirkan. Entah memang kamu yang terlalu cerdas untuk menelaah atau mungkin aku yang tidak mengenal diri sendiri?
Ironinya, Mei yang ini memiliki terlalu panjang mimpi. Ia tidak memiliki banyak, hanya satu namun panjang. Menyulitkan untuk diwujudkan. Terlalu pegal untuk sekedar didengar. Mimpi yang berisikan sepotong film yang dimana, Mei dan Meinya duduk bersama dengan seorang lainnya di bawah lampu dengan cahaya yang menghangatkan ruang, duduk melingkari santapan yang terlihat menggoda. Barangkali seseorang itu bukan Mei, sungguh tak apa. Namun dia akan mendengar lebih banyak cerita mengenai Mei yang mengisi hidupnya. Pada hari yang gelap, cerita itu berjalan dengan lambat. Tanpa musik ataupun efek kamera lainnya. Berlangsung apa adanya namun tak berakhir. Di dalamnya, hanya ada suara tawa, diselingi senyum dan bisik syukur.
Lalu pada hari ini Meinya bertanya, apakah tak ada lembar yang bisa Ia isi untuk mengeluarkan sisinya. Sisi yang konon Ia sembunyikan agar Mei tidak merasa sakit. Bagian terdalam yang tidak sering terbuka namun jika dibuka maka akan nampak hal yang berujung dengan pertanyaan, lalu ini salah siapa?. Meinya saat ini berada di ujung ruang menunggu pintu itu terbuka. Menunggu sang penulis membuka halaman berikutnya dan membalik- untuk menutup lembar yang berisi impian manis ini. Mei yang terlalu takut, menjaga agar halaman ini tidak kunjung selesai. Barangkali dengan ukuran tulisan yang diperkecil? atau mungkin dengan kalimat yang disingkat seperti pada text pada kolom chatt harian? atau .... perlukah Mei sujud pada ujung halaman dengan sedikit memohon - dengan keras, agar tetap seperti ini saja?
Meinya berkata bahwa permohonan itu sudah sering kali terkabul dan tak ada yang berubah. Seperti diluar ruang yang hujan dengan deras namun tak dimasukkan dalam cerita atau mungkin retakkan tembok pada ruang lain. Meinya juga bersih keras untuk sang penulis dapat dengarkannya lebih dari Mei yang hanya membual. Membiarkan halaman berganti meskipun mimpi indah harus tertutup-tertumpuk dengan kalimat lainnya. Entah Mei mana yang akan didengar karena pada akhirnya memang cerita ini membuat resah pada bulan lain. Dimana mereka menunggu, apakah Mei akan bertukar dengan Desember atau justru menemukan Januari dalam ceritanya. Karena pada akhirnya, Mei dan Meinya tetap harus memilih untuk dapat melanjutkan ceritanya. Meskipun, sang penulis lebih memilih tidur dan meninggalkan bolpoin dengan buku di meja usang karena lelah untuk mengadu batin dan takdir.
Referensi lainnya untuk cerita pendek yang mungkin akan kamu sukai :

Komentar