Postingan

Itik

Itik tetaplah Itik Dan lalu burung merak yang bersarang emas kan selalu jadi burung merak Tak akan pernah berubah Meski bertukar kartu takdir Pada akhirnya Itik hanya bisa berenang Tutupi sekujur dengan lumpur Tidak, Ia bukan takut dimangsa Hanya takut jika ada yang memanggilnya Itik dibubuhi buruk dan rupa Itik sekedar ingin bermain Tak ada maksud tuk bersolek Atau memayungi diri dengan puja Itik ingin bernafas hingga tertidur panjang ditemani tenang

Jatuh

Prihal jatuh cinta pada orang yang salah apakah itu sebuah kesalahan? apakah aku salah karena terjatuh? atau kamu adalah orang yang salah? Bagaimana caranya orang bisa berkata demikian? Bahwa cara jatuhku adalah salah Kamu adalah salah Lalu siapakah yang benar? Sejatinya jatuh, ya tentu tanpa undang jatuh tetaplah jatuh tapi tidak ada jatuh dengan sigap jawab mereka terlalu banyak bertanya dan aku tetap jatuh Jatuhku kini sudah genap dua tahun Remehan hari sisanya mari kita hitung nanti Sebab jatuhku tak bisa sambil berhitung Hanya bisa sedikit berkata kasar, memaki tanah yang nakal Jatuhku bisa tampak dari sekujur tubuh Babak belurku Habis dengan bercakkan biru bukan, ungupun tak yakin Juga rasa sakit yang menggigil dan merintih termasuk tak bisa dibayar terpisah Jatuhku tapikan masih berlanjut Meski tangan yang membantuku sebelumnya, telah pilih pulihkan diri Dia, juga jatuh bersamaku di atasku kadang juga di bawahku kami jatuh bersama tapi hanya aku yang masih tersungkur dengan waja...

Hilang

Kamu menghilang Aku tak lepas pandang Pada hamparan cahaya luar Berharap kan ada yang datang Bukan tamu,  hanya sebuah kehadiran kembali Lalu aku kan buka seluruh dan kita kembali telusur Waktu yang sempat henti berdenting Pada pukul satu Kamu menghilang Aku tak henti harap Memintai nilon tuk membuat selimut Hingga saatnya datang Kan ku tutupi kau dengan untaianku kembali Kamu menghilang Dan aku percaya kata kembali Meski ratusan ku ajukan maaf Pada Tuhan Pada sehatku Juga padamu Yang barangkali ada rancuanku sampai  berkat belas kasih Tuhan

Pelangi

 Ada berkah di balik resah Tidak, aku tak ingin Lalu semua acungkan pelangi terbentang pada ujung jalan, samar Tuan Aku hanya ingin menetap pada batu yang sempat dijadikan kau pembela diri padaku yang tak tahu diri Yang masih bertanya kapan lagi abu mengatapiku Buatku basah Bersamamu  

Satu Tahun

Hirup pikuk pada jalan pertokoan Kami membeli secarik kebahagiaan Tuk melengkapi tapak kaki Juga jari yang saling bertaut Adapula kami memasak kehangatan Dia, si handal yang paham kan kebutuhan Terlalu hangat dan bahagia Lupa bahwa ada pulang Pisah Terpisah Tak menetap Tak seatap Tak menatap Selamat satu tahun foto lama liburlah selamanya Jangan lekas kembali ke peradaban ini

Cuitan Pekan Ini

Orasi burung hari ini Menentang hujan di balik jendela Ketuk jendela berulang tuk ingatkan Tak sepantasnya banjir saat sengat matahari tak berkesudahan Hanya untuk cuitan bahagia yang tak bawa bahagia tidak bahagia tidak

Cerpen : Waktu Memotong Kue

Bagaimana cara menikmati kue tanpa mengubah bentuknya?  Pertanyaan itu terkesan bodoh namun sejujurnya sering kali terlintas di pikiranku selama ini. Aku bukanlah wanita yang menyukai hal-hal berat untuk dipikirkan. Seperti halnya berpikir tentang menginginkan suatu hal yang sangat mewah untuk aku gunakan atau mungkin cara menabung hingga bisa mendapatkan gelar milyader. Tidak, itu tentu bukan aku. Hanya saja, kali ini mungkin berbeda, dimana aku sedang tidak menjadi diriku. Perasaan ini cukup lama mengepungi hati dan pikiranku. Kehidupan sederhanaku perlahan mulai tergerus dengan kehadiran perasaan 'orang bodoh' ini.   Hari inipun sama. Entah tarikan nafas ke berapa hingga Ani, rekan kerja di sampingku mulai merasa kejanggalan. Meskipun rasa terusik Ani sangat ingin Ia gambarkan melalui pertanyaan, namun Ani sepertinya cukup menghargaiku dengan kondisi meja penuh dengan berbagai dokumen berharga yang akan segera berakhir menjadi benda tak bernilai di mesin penghancur ker...