Postingan

Lalu dan Maaf yang Tak Berujung

Tumpahan oranye di sanah terlihat tulus menemani gadis yang tengah merana. Tanpa musik tanpa asap, ia gambarkan seorang yang tengah terpuruk. Sangat terpuruk. Hanya bisa menyembunyikan wajahnya di rangkulan kakinya. Begitu adanya, wajah sembab, mata membengkak dan bibir yang kini membekas akibat menahan suara. Gadis malang di bawah senja. Semua jejak menggambarkan gangguan mental gadis ini. Gila Ia sangat dan begitulah. Gadis cerdas katanya namun lemah tatkala terbangun. Sudah disuguhkan segelas racun padahal untuk menidurkannya. Dia tak menyentuhnya. Dan kembali menggila. Tangis dan rasa takut yang terus merangkulnya. Lalu semakin mendekap, erat. Hingga dititik dimana yang disisakan percak merah lalu kulit yang merusak. Meraba raba angan lalu dan mengemis maaf. Masih dengan tetesan merah yang terus mengalir. Dijadikan tumbalpun tak apa, yang penting dapatkan maaf. Begitulah kebodohan itu lahir. Lalu, jutaan maaf yang kini tersirat - menghantui - dan menghardik masa kini hingga k...

Hai semesta

Hai semesta, namaku duka Dan tentunya dia lara Kami memang di takdirkan bersama Tuk ajarkan hitam setelah biru terang kuasai langit Hai semesta, namaku duka Dan dia bahagia  Namanya berubah sejak ia menginjakan kaki di bumi  Lalu bertemu dengan dendilion di tepian sungai Dan hai semesta,  Aku pergi

Malamku Bercerita

Gambar
Malam...  Malam ...  Malam Beberapa malam yang berlalu cepat Pada suasana yang sama Antara alam dan hati yang tenang Hirup satu-dua dan seterusnya Wangi seperti biasa Nalarku menyimpan aromamu Tanpa sadar, aku lebih dari sekedar bernafas Kamu tak berwajah bahagia,  aku tahu Saat ini kamu butuhkan pendengar, itu aku Dengan posisi tak saling berhadap kau sekedar berbicara apapun itu, aku memahaminya Lalu pada penghujung jalan aku selalu tersenyum, kamu tak melihatnya - selalu Sesekali kau berseringai dan ciptakan momen yang ingin selalu ku putar Tanpa sadar kembali nalarku menyimpan semua Hingga aku mengetahui alur cerita leluconmu Tenang saja,  aku akan selalu tertawa  Lalu -  dari bagian termanis Nalarku memutar ulang  Dan aku selalu tertawa Dimana waktu perputaran tepat di tengah gelap Entah berapa bait lagi berisikan tentangmu Mengenai dirimu saat ini, bukan mengenang Meski takut, aku berusaha tetap sama Menjadi seorang p...

Ketidak Nyamananku

Aku dengan ketidak nyamananku Berdiri di atas panggung Namun enggan untuk bersua Sekedar menunduk, takut tuk angkat kepala Aku dengan ketidak nyamananku Memisahkan pasir dan biji selasih menjadi pilihanku Akal ku tak sampai bila menyentuh lainnya Itu yang mereka katakan, dan aku yang mengiyakan Mereka dengan alasan ketidak nyamananku Mereka yang menjadi alasan ketidak nyamananku Mereka yang melarutkanku dalam rasa ketidak nyamananku Merekalah yang perkenal ku dengan rasa ketidak nyamananku

Jejaring Rindu

Kantung matamu kian membesar Keriput di beberapa titik mulai memperjelas Warna rambut yang semakin memudar Tak apa, cantikmu masih terjaga Pelukmu tak sekecang dulu Alasan yg ada bukan karena tak rindu Hanyak karena tenagamu tlah terkuras banyak hari ini Tak apa, selagi senyummulah yang dapat mengganti keluh Setelah hujan di bulan april Kami di pisahkan oleh jarak yang tak tergapai tangan rentanya Namun aku masih sama, tetap pulang pada tujuan seperti biasa Pulang kepadanya melalui jejaring yang kini ada "jadi...  Kapan pulang? " Suara parau di sebrang sana membungkamku "Sesegera mungkin mbah."  Ada jarak pada waktu bisu Degusan nafas saja yang mengisi Panggilan itu tak lama berakhir Setelah kami benar-benar berhenti melepas isak yang tak tertahankan - lagi

Maaf

Gambar
Lucunya  Aku Takut Kamu bahagia  Maaf~

Sepasang Yang Tak Disatukan

Gambar
Ada sedikit cerita Tentang satu malam yang ku lupa tepatnya  Malam yang singkat Melapangkan ruang sempit di hati Tak ada pengakuan Hanya cerita yang terlontar  Tapi kami begitu terbawa suasana Ya kami,  Dia pun tampak ikut menikmati Kami sepasang yang tak dipasangkan layaknya sepatu berukuran sama warna, tipe dan semuanyapun sama Namun di tempatkan di kotak yang berbeda Kami sepasang yang tak di pasangkan Layaknya telinga yang ada di satu tubuh Hanya di tempat yang sama Namun tak dapat saling berdekatan Kami sepasang yang tak di pasangkan Layaknya mata yang bersampingan namun tak dapat saling berhadapan Untuk sekedar memperhatikan, menatap dalam Kami sepasang yang tak di pasangkan Meski di pasangkan tetap tak bisa bersatu, berdekatan dan saling memperhatikan Walau memang benar kami sepasang karena di takdirkan bersama, tak berubah Di pasangkan, di takdirkan bersama, hanya untuk...