Postingan

Terima kasih

Gambar
  Harumnya perangaimu menyatu dengan seluruh pakaianku Setia merekah dalam ingatan Kan selalu ada syukur pada tiap akhir kalimat Untuk kamu pemilik pagi dan malamku pun saat ini Terima kasih telah bersedia menjadi paramananda pun hingga kini Referensi bacaan untukmu : Ruang masa lalu Lelaki dalam Belenggu Hi, Desember telah tiba

Lelaki yang Membopong Wanita Berluka Nanah

Gambar
Diantara gaduh siang itu Seorang wanita penuh nanah hampiri Sajikan telapak terbuka dan sapaan penuh kebutaan Tersenyum seolahkan mampu tutupi besaran kotoran dihidupnya Lelaki beraroma kebahagiaan mulai melirik Namun tak balas tangan kotor yang bergantung di hadapannya Hanya ucapkan satu kata yang akan terpati dalam ingatan di tengah debu isi pikiran  sang wanita Waktu yang berjalan mendayu Hantarkan pada kumpulan bunga bermekaran di seluruh bagian Tenggelamkan sepasang manusia yang abaikan semesta Berpegang buah takdir yang dipetik pada sepertiga malam Satu persatu sungai anggur telah dicicipi Aliran yang menambah nikmat Mabuk hingga hilang akal Harap-harap tumbuh indah bak bunga teratai di atasnya Jutaan badai telah berlangsung cukup lama dan menyakiti dua makhluk Tuhan sakit yang menimbulkan demam dan gelisah Mencari dokter terhebat tak hasilkan jawaban Melemahkan pendirian Pendekar yang telah berjuang dengan kudanya memilih pergi dengan kaki pincangnya Wanita berbalut nanah ki...

Lelaki di dalam belenggu

Gambar
Masuki ruang ini kembali? Hanya dalam mimpi,  sekedar mimpi  bukan berarti di dunia nyata Atau bahkan memang tidak terbangun Memilih tidak terbangun Apa yang kau cari? Kekosongan ini membuatku tidak penuh Seperti telah menuang kopi pada cangkir Tak henti, namun tak kunjung terisi Benarkah kopi yang kau tuang? Cerutu pengganti dupa Biarkannya terbakar perlahan, sangat perlahan Kan ku tunggu hingga habis terbakar Benarkah sekedar menunggu? Tak pantas ajarkan rindu pada seorang lelaki Lelaki tumbuh karena rasa sakit Rindu hanyalah belenggu bagi lelaki lemah yang merajut ulang ingatan lama lelaki hanya perlu tamparan tendangan makian Agar Ia hidup Lantas, sedang apa kau di sini? Lelaki tak perlu menjawab Menjelaskan membuat dirinya bodoh Bodoh bukanlah aku Aku adalah lelaki yang tak berputus asa hingga mengharuskan bicara Aku akan bersandar saja Tak apa jika sedikit mengenang Menapaki jejak lama pada tiap tapak yang sama hanya akan membuatku terperangkap Tak ada perangkap, kita ad...

Ruang Masa Lalu: Cerutu dan Aroma yang Tak Pernah Pergi

Gambar
Aroma vanila masih tertinggal Bertengger di cupid hidungku Tatkala ku memasuki ruang masa lalu Berpintu kayu yang mulai tertutup jaring-jaring  Ruang yang seharusnya tak disentuh namun ternyata kembali terbuka Tak pandai-pandainya aku menyembunyikan kunci ini Jangan suruh aku membuangnya Alih-alih melenyapkan, justru aku mendatangi pemilik kunci Sudah ribuan malam ku tak menutup jendela pada ruang ini Barangkali udara malam itu Baik saat hujan Pun kemaraunya Lalu pasukan pengepak berbagai ukuran Pun para pengerat  Cukup tuk merunyamkan ruang Malangnya yang ditemukan adalah kedamaian Mereka senantiasa menetap  Bingkai itu masih berisikan dua orang bahagia bahagia yang bahagia bahagia yang semakin membias Kini mataku telah lupa bagaimana teduh matanya Aromanya yang tengah berpadu padan dengan lendir di tubuhnya tak lagi tercium Mulut yang tak lagi mengecap manis miliknya Telinga menuli setelah tak lagi ada yang memanggil namaku Dan kulitku yang mengering karena tak lagi ber...

Penggoda Tuhan di Tepi Jalan

Gambar
Kelambu yang telah abu Menutupi segala yang berada di dalam kungkungannya Bekas tapak yang mulai terisi genangan Sisanya hilang tersisir Barangkali di antara bercak tanah itu ada kehidupan yang tampak Meski banyak yang hampir tersentuh Namun tak mengurangi kesucian putihnya Dan begitupun cerahnya yang memanggil tuk sapa sembarang Segerombolan itu tetap bertahan Padahal, tak ada yang memasukkannya dalam vas berukir naga, atau awan, atau entah apapun itu Berdiri anggun di ruang bertemakan kekayaan Ia, di antara lainnya hanya menumpang hidup di tanah Tuhan Penggoda Tuhan untuk beri hujan Penggoda Tuhan untuk beri matahari Tapi siapa yang akan menyangka bahwa Ia adalah sang penggoda?, Bahkan Tuhanpun ragu akan itu Benar adanya atas kecantikkannya Terlebih saat tengah menari atas ajakan angin Saling bersentuh, berayun kanan-kiri Berdansa dengan banyak penghuni alam yang lain, memikul iri langit yang begitu jauh Percayalah, kamu begitu mengagumkannya Cela yang mungkin ada, hanya dapat kuseny...

Hi, Desember Telah Tiba : Harapan dan Kehilangan Di Penghujung Tahun

Gambar
Akhirnya sebuah akhir datang Mengapa menunggu akhir? Sebab ada awal yang dijanjikan diakhir Lalu apa itu akhir? Lalu apa itu awal? Seperti kata para peramal Desember adalah penentu perubahan Sial, kali ini apakah perlu percaya dengan ramalan? Tidak Tapi sepertinya putus asa tahun ini Biarkan saja ini  Berputus asa? Tidak Hanya biarkan saja ini Lalu semua mulai berputar Dua puluh enam tahun yang tidak terjadi Rasa-rasa baru satu tahun hidup Dan lalu berakhir di Desember Biarkan saja ini Berbagai kemungkinan sudah terjadi disebelas bulan ini Seperti apa? Seperti sebelas bulan yang sudah terjadi Bagaimana itu? Lebih memelas dibandingkan dua puluh lima tahun yang sudah terjadi Terlalu rumpang Dan memang disiapkan tak lengkap Bagaimana cara melengkapinya? Dengan cara membuat Desember sebagai awal Biarkan diri ini menarik kembali apa yang sudah lama hilang Bersembunyikah? Tidak Ia pilih hilang Mengapa tak dicari? Karena Ia yang memilih hilang Hingga peneliti telah lelah dan duduk sebagai...

Cerita Orang Kaya Baru: Dari Rantai ke Kebebasan

Gambar
Penghujung tanggal hitam akhirnya tiba Terdengar sorak dari berbagai balik meja Beberapa di antaranya mulai berangan Sisanya hanya bisa menghela nafas Badanmu tegap kali ini Berjalan dengan yakin tanpa rantai dikaki Tak ada beban di pundak Hanya ada beban didompet yang kenyang akan kekayaan Malam ini tak lagi ada aroma kemiskinan Yang tercium hanya kepulan dari dapur restoran Aahh ... jangan lupa sapaan bak raja yang disambut oleh para dayang Menyiapkan diri tuk meraih bintang lima darimu Kedai ramen saat itu apakah masih sama? Ornamen kayu dan menu andalannya Bukan, bukan andalan mereka Hanya andalan sepasang pencerita pecinta Saat itu Apakah segalanya masih sama? Jika tak ada ramen, barangkali aroma popcorn Banyak tayangan yang dapat mengundang Lalu kan ku sertakan kopi pandan  Sembari menikmati lagu jazz di depan pintu Dan saling menebak judul lagu Sebelum masuki ruangan gelap dan bersandar kasih Malam belum larut Ceritamupun masihlah sebanyak isi rekeningmu Mari berjalan sediki...