Postingan

Ruang waktu

Tempat itu masih sama Buatku tertawa, derasnya juga Aku melihat sekitar Buat waktu melambat mundur berputar Bersama dengan wanita, si pendengar radio Ku ajaknya study tour pada bangunan luas itu Pendingin handalanku, dulu Tak lagi terasa Setibanya kami injaki, segalanya memanas Lelehkan lilin yang ku simpan Di balik bola mata Wanita itu bertanya tentang tata ruang Tepat saat kaki berhenti di lantai tiga Ini tempat Ia bertanya,  kamu mau makan apa ? Satu lantai di atas kita untuk,  nonton ini seru kali ya ? Sedangkan satu lantai di bawah cukup asik tuk lewati sekedarnya Lalu sampailah di lantai satu,  itu ada produk baru, mau lihat ? Habiskan uang untuk baluti diri Bila sampai lantai utama, kau  kan mengambil satu scop ice cream sembari menarikku tuk nikmati angin beserta lampu Berakhir pada lantai tanpa decor Tempat kau berkata,  Yang kencang, khawatir anginkan hempaskan kau saat di jalan nanti Tempat ku berkata,  Bagaimana jika kit a menetap di sini? Pende...

Prosa : Rest Area

Kita telah melewati banyak jalan dan tempat. Bersama denganmu Tuan, aku rasa semua perjalanan menjadi menyenangkan. Bahkan sekedar melihat lampu yang berbaris rapih di pinggir jalan raya saja, kan terasa lebih bermakna. Seperti pada persimpangan yang membuat kita berhenti tuk saling bersandar. Mereka sebut itu Rest Area, namun bagiku itu lebih dari sekedar Rest Area.  Ada banyak lagu yang selalu kau dengar dalam setiap perjalanan. Pun aku, juga begitu. Namun dalam perjalanan dengan kata "kita" di tengahnya, terasa lebih nyaring dari berbagai musik yang kita sukai. Nada itu, tak akan kau temui dari lagu di gawaimu. Perpaduan suara acak bahkan mungkin bisa jadi lebih dari sekedar sumbang sangat menenangkan. Semua berasal dari hati kita yang berbahagia dan kita gambarkan melalui tawa. Matamu menghilang tatkala tertawa di sampingku, di belakang kemudi yang setia kau genggam hingga sukses membuatku iri pada benda mati tersebut. Meski benar, kacamata berbingkai hitam bisa jadi yang...

Mimpi II

Mimpi kali ini sederhana Segala pesan puisiku terbalas Olehmu yang datang dan menjawab rangkaian tanya Aku terpaku namun langkahku mengikis padamu yang mulai tersenyum Senyum yang kuingat Lalu kurindukan setelahnya Kini jarak kami tidak lebih dari satu harsa Membuncah segala halnya Hingga aku mampu melompat Padamu yang membuka kehangatan itu Aroma yang ku pahami muasalnya Juga derunya jantung kami yang berlomba Mengepung gendang telinga Tulikanku agar tak ada yang mampu Menariku ke sadar kini

Laut abu-abu

Pemutaran kembali Hari di mana aku dan kamu Mengitari bibir pantai  Sembari menguntai jejak Di manakah angin membawa kita pergi? Burung camar menyambar pertanyaan Mencari jawaban Tentang rumah yang kini hilang Aroma asin itu mulai pudar Lain cuaca juga waktu Tapi pantai yang izinkan tuk menggulung ombak Hingga bibir tak lagi saling menyatu Kau terjeram pada pasir sedang aku tenggelam habis Suaraku tak sampai Pada Tuhan juga kau yang inginkan ku tuk bernyawa bukan tersedak dalam tawa Masih bisakah kita bertatap? Dua empat tujuh tanpa hambat Bergulat dengan cara yang kita sukai Diakhiri dengan usapan lembutmu pada pangkal tubuh buat luluh aku

Bab akhir ; Tuan - Puan

Tuan, terimakasih atas tumpangannya Perjalanan ini membawaku begitu jauh Pada berbagai hujan dan pelangi Juga fajar dan senja yang kita datangi Tuan, mungkin benar Ada kalanya kita perlu berhenti Pada persimpangan meski tak berlampu Merah ataupun hijau Hanya sorot kuning yang bias pada bintik air Dengan kepulan laron temani Tuan, kita terlalu gusar tuk lanjutkan Apa-apa pada jalan yang tak berujung Namun begitu banyak kelok, buatku mual dan kau keluh lelah Kita mestinya tinggalkan jalanan dengan tenang meski ragu Tuan, aku melihatnya Tampak payung merah muda itu telah lama Hampiri kau dan sajikan teduh Juga senyum itu yang buat kau luluh Tuan, Kini aku tak lagi tenggelam Pada ragu itu Ada kunang-kunang yang tuntunku Begitu suka menari dan kelilingiku Buatku, menatapnya dengan tawa Untuk Tuan Dari Puan Agar Tuan dapat meramu lebih banyak Dan Puan meminum ikhlas dengan segar

Itik

Itik tetaplah Itik Dan lalu burung merak yang bersarang emas kan selalu jadi burung merak Tak akan pernah berubah Meski bertukar kartu takdir Pada akhirnya Itik hanya bisa berenang Tutupi sekujur dengan lumpur Tidak, Ia bukan takut dimangsa Hanya takut jika ada yang memanggilnya Itik dibubuhi buruk dan rupa Itik sekedar ingin bermain Tak ada maksud tuk bersolek Atau memayungi diri dengan puja Itik ingin bernafas hingga tertidur panjang ditemani tenang

Jatuh

Prihal jatuh cinta pada orang yang salah apakah itu sebuah kesalahan? apakah aku salah karena terjatuh? atau kamu adalah orang yang salah? Bagaimana caranya orang bisa berkata demikian? Bahwa cara jatuhku adalah salah Kamu adalah salah Lalu siapakah yang benar? Sejatinya jatuh, ya tentu tanpa undang jatuh tetaplah jatuh tapi tidak ada jatuh dengan sigap jawab mereka terlalu banyak bertanya dan aku tetap jatuh Jatuhku kini sudah genap dua tahun Remehan hari sisanya mari kita hitung nanti Sebab jatuhku tak bisa sambil berhitung Hanya bisa sedikit berkata kasar, memaki tanah yang nakal Jatuhku bisa tampak dari sekujur tubuh Babak belurku Habis dengan bercakkan biru bukan, ungupun tak yakin Juga rasa sakit yang menggigil dan merintih termasuk tak bisa dibayar terpisah Jatuhku tapikan masih berlanjut Meski tangan yang membantuku sebelumnya, telah pilih pulihkan diri Dia, juga jatuh bersamaku di atasku kadang juga di bawahku kami jatuh bersama tapi hanya aku yang masih tersungkur dengan waja...